Pikiran Rakyat
USD Jual 14.619,00 Beli 14.521,00 | Berawan, 22.6 ° C

Polisi Tahan Tersangka Pengedar Cairan Infus tak Berizin

Nuryaman
KUNINGAN, (PR).- Satuan Narkoba Kepolisian Resor Kuningan menahan seorang pria berinisial M (35) warga Kelurahan Cigintung, Kecamatan Kuningan, Kabupaten Kuningan sebagai tersangka pelanggar ketentuan penyimpanan dan penjualan jenis barang farmasi. Pria tersebut diketahui Satnarkoba Polres Kuningan, dalam beberapa bulan terakhir telah menyimpan bahkan sudah berulang kali menjual jenis barang farmasi berupa cairan infus tanpa dokumen perizinan.

"Status tersangka disusul penahanan terhadap saudara M, kami tetapkan sejak Kamis, 30 Maret 2017 pagi sekitar pukul 2.00," ujar Kepala Satuan Narkoba Polres Kuningan Dedih Dipraja, Jumat, 31 Maret 2017.

Selain itu, sebelumnya Satnarkoba Polres Kuningan juga telah menyita lebih kurang 35.600 botol cairan infus terkemas dalam 1.780 dus simpanan tersangka dari dua rumah di Kecamatan Lebakwangi. Sekitar 930 dus ditemukan serta disita dari sebuah rumah penduduk yang disewa M sebagai tempat penyimpanan barang tersebut di Desa Pagundan dan 850 dus ditemukan serta disita dari rumah orangtua M di Desa Pajawan.

Pada label dus dan botol plastik kemasan cairan infus tersebut, tertera cairan infus itu bermerek RL-MJB ditandai kode huruf K dalam bulatan merah (jenis obet keras). Cairan infus itu, tertulis pada labelnya berisi komposisi antara lain natrium klorida kalium klorida, kalsium klorida, natrium laktat, air untuk injeksi ad, dan osmolaritas 278 mOsm/L.

"Barangnya itu (barang bukti cairan infus tersebut-red.) sih, barang resmi, cuma pendistribusian dan penjualannya (oleh M) tidak memiliki izin. Contoh kalau orang pakai kendaraan bermotor tidak punya surat izin mengemudi, dia tidak berwenang dan jelas melanggar aturan hukum meskipun surat-surat dan standar kendaraan bermotor yang dikemudikanya lengkap," ujar Dedih Dipraja.

Selain tidak memiliki izin menjual, ujar Dedih, penyimpanan cairan infus dilakukan M di tempat tidak memenuhi ketentuan standar gudang penyimpanan cairan infus. "Disimpannya ditumpuk rumah, dan tidak bermutu gudang farmasi," katanya, seraya menambahkan, berdasarkan hasil penyelidikan penyimpanan tanpa standar gudang disertai penjualan cairan infus oleh M sebelum akhirnya terbongkar, telah berjalan selama lebih kurang empat bulan.

Dedih Dipraja lebih lanjut menyebutkan, tersangka M tercatat sebagai sales dari sebuah perusahaan produsen resmi cairan infus tersebut, tetapi tidak memiliki izin untuk mendistribusikan dan menjualnya. Atas perbuatan tersebut, demikian Dedih, tersangka M sementara ini telah dijerat pelanggaran hukum pasal 196 dan 197 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Pasal 196 undang-undang itu menyebutkan, setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan/atau persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan dan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 1.000.000.000. Kemudian pada pasal 197-nya menyebutkan setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000.***
Bagikan: