Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian cerah, 17.8 ° C

Kritik Sosial Dalam Riak Sajak Warga Purwakarta

Ira Vera Tika
Pegiat seni dan budaya dari Sanggar Sastra Purwakarta, Rudy Aliruda (depan) sedang membacakan salah satu puisi dalam buku Antologi Puisi Warga Purwakarta, di Galeri Studio Seni Rupa Dendin, Jalan Citalang, Desa Citalang, Purwakarta, pada Rabu, 15 Februari 2017 lalu. Diskusi bersama tersebut mengupas soal ide dan pikiran yang dituangkan warga Purwakarta dalam bentuk puisi.
Pegiat seni dan budaya dari Sanggar Sastra Purwakarta, Rudy Aliruda (depan) sedang membacakan salah satu puisi dalam buku Antologi Puisi Warga Purwakarta, di Galeri Studio Seni Rupa Dendin, Jalan Citalang, Desa Citalang, Purwakarta, pada Rabu, 15 Februari 2017 lalu. Diskusi bersama tersebut mengupas soal ide dan pikiran yang dituangkan warga Purwakarta dalam bentuk puisi.

Punten, Pa Lurah!

Lembur teh beuki heurin

Jul-jol jalma nu ngadon usaha

Beuki kerep gegek ku pandatang

Teu wasa ngahalangan

Punten, Pa Lurah!

Kuring teu ngarti

Kiwari lembur geus heurin ku pabrik

Mun kaluar karyawan jadi heurin usik

Jalan macet jalma pagilinggisik

Punten, Pa Lurah!

Kuring beuki teu ngarti

Naha barudak lembur loba nu nganggur

Nu garawe meh kabeh ti batur

Punten, Pa Lurah!

Kumaha nasib kuring salaku tuan rumah

Geus kieu meh teu bisa hojah

Sanajan adug-lajer ge percumah

Ukur batur anu ceuyah

Puisi karya Achmad Sopian Effendi, yang dibuat di Campaka, 1 Juni 2010 silam merupakan satu dari 113 kumpulan puisi karya 70 orang warga Kabupaten Purwakarta. Berjudul Adug-lajer, Effendi berusaha menyindir birokrasi lewat puisi. Puisi jadi alat untuk menyampaikan sesuatu atau mengkritisi.

Dalam Antologi Puisi Warga Purwakarta, berjudul "Riak Sajak", bukan Effendi seorang yang meluapkan kegelisahan. Beragam ekspresi puisi ditawarkan. Berbagai tema, sudut pandang, pengalaman, dan sikap dengan latar belakang penulis yang berbeda. Ada pelajar, petani, seniman, buruh, politikus, pedagang, guru, dan lainnya ikut bicara. Ada kisah cinta, kenangan, rindu, kematian, kampung halaman, dan impian yang ditawarkan.

Pegiat Seni dan Budaya dari Sanggar Sastra Purwakarta, Rudy Aliruda menuturkan, kumpulan puisi asli pemikiran warga Purwakarta tersebut jadi bukti bahwa sejumlah orang masih mau mengekspresikan energinya melalui tulisan. Mereka meyakini kekuatan kata-kata. Meneruskan tradisi literasi sebagai kerja kreatif kemanusiaan.

Puisi dengan beragam tema karya asli warga hadir sebagai bukti bahwa sastra (puisi) tetap hidup dan dihidupkan. Sebuah kabar baik bagi perkembangan budaya literasi di Purwakarta. Disajikan dalam dua bahasa, yakni Sunda dan Indonesia, puisi yang tersaji dapat menjadi representasi dari gairah kreatif warga Purwakarta dalam berkarya dan menjadi kritik sosial.

Rudy mengisahkan, antologi puisi tersebut bukan dengan sengaja dibuat. Berawal saat siaran radio, sebuah program bernama serambi sastra mengudara. Singkat cerita, pendengar dapat berbagi tulisannya.

"Pendengar kebanyakan ibu-ibu, jadi mereka yang banyak mengirimkan puisi. Setahun lamanya, tulisan yang masuk menumpuk. Saya pikir sayang kalau dibiarkan atau dihapus. Akhirnya kerjasama dengan bidang kebudayaan pada pemda (pemerintah daerah) dan menggandeng penerbit, akhirnya diterbitkan," ucapnya, saat ditemui di Galeri Studio Seni Rupa Dendin, Jalan Citalang, Desa Citalang, Purwakarta.

Jika melihat kualitas, tentu berbeda dengan tulisan karya penulis yang memang bergelut dalam dunia sastra atau puisi. Namun, diterbitkannya buku itu pada Desember 2015 lalu sebagai pengingat bahwa warga yang buta soal sastra pun bisa mengekspresikan diri melalui puisi.

"Sebanyak 1000 eksemplar dicetak dan kami launching. Para penulisnya kami undang. Kebanyakan mereka kaget, karena merasa tidak pantas dan layak. Malah enggak percaya tulisannya dibukukan," tutur dia, Senin, 6 Maret 2017.

Sepengetahuannya, selain Purwakarta, baru Bogor dan Banten yang membuat antologi kumpulan puisi karya warganya. Menurut dia, semua orang bisa turut berbagi ide dan pikiran melalui tulisan. Tak melulu soal kritik sosial, menulis sejarah kehidupan mereka sendiri pun tak jadi soal.

"Jilid kedua antologi pun sudah dicetak, ini jadi alat untuk mengenalkan puisi. Harapannya masyarakat mulai paham dan menerima," katanya.

Penerbitan jilid ketiga juga tengah disiapkan dengan tema khusus Purwakarta. Dalam jilid ketiga nantinya akan diwarnai beragam sketsa dari seniman muda Sketsa Sore.

"Tapi hingga saat ini tidak ada informasi lebih lanjut (dari pihak pemerintah). Jika tidak ada dukungan, tetap kami terbitkan," ujarnya.

Rudy pun menambahkan, jika dikaitkan dengan era saat ini terutama membangun minat generasi muda, semua bergantung penting tidaknya sastra dalam ranah pendidikan. Hidup matinya sastra di sekolah itu bagaimana pendidik. Hak untuk belajar sastra akan hilang jika pendidik tak mau mengenalkan.***

Bagikan: