Pikiran Rakyat
USD Jual 14.210,00 Beli 13.910,00 | Berawan, 20 ° C

Gula Semut, dari Pangandaran Menembus Eropa

Gugum Rachmat Gumilar
MANAJER BDC Kabupaten Pangandaran, An An Ramhdani menunjukkan produk gula semut buatan para perajin di Desa Wonoharjo, Kecamatan/Kabuapaten Pangandaran, Jumat, 26 Februari 2017. Gula semut asal Pangandaran sudah mampu menembus pasar Eropa dan Jepang.*
MANAJER BDC Kabupaten Pangandaran, An An Ramhdani menunjukkan produk gula semut buatan para perajin di Desa Wonoharjo, Kecamatan/Kabuapaten Pangandaran, Jumat, 26 Februari 2017. Gula semut asal Pangandaran sudah mampu menembus pasar Eropa dan Jepang.*
DIKANTONGINYA sertifikat produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) pada tahun lalu, menjadi pijakan awal bagi produk gula semut asal Kecamatan/Kabupaten Pangandaran memperluas pemasaran. Kini, butiran gula yang dihasilkan para petani dan perajin di sana, bahkan sudah bisa menembus pasar Jepang dan Eropa.

Segelas air seduhan gula semut, menjadi suguhan sekaligus contoh produk yang ditunjukkan Manajer Business Development Center (BDC) Kabupaten Pangandaran, An An Ramhdani di kantornya, Jumat, 24 Februari 2017.

Rasanya khas, tak jau berbeda dengan manis gula merah, tapi lebih lembut. Deretan produk gula semut berbagai kemasan juga terpajang pada salah satu sisi ruang tamu tempat pengolahan gula semut di Desa Wonoharjo, Kecamatan/Kabupaten Pangandaran itu. Berbincang ringan, Ramhdani memaparkan secara singkat proses melejitnya si gula semut Pangandaran.

Sebenarnya sejak lama banyak warga Kabupaten Pangandaran memproduksi gula kelapa. Namun produknya berupa gula merah cetak. Proses pembuatannya pun alakadarnya, berdasarkan teknik turun temurun warisan keluarga. Gula merah tersebut lebih banyak dijual pada pabrik-pabrik untuk menjadi bahan baku kecap. Padahal, potensi pasar gula semut terbuka amat lebar.

Harganya pun lebih tinggi. Termasuk untuk pasar bahan makanan dan minuman di luar negeri. Di sisi lain, konversi proses pembuatan dari gula merah cetak menjadi gula semut juga relatif mudah dilakukan, meski bukan berarti tanpa tantangan.

Dari sinilah kemudian, terhitung awal 2016 program BDC resmi dijalankan di Pangandaran. Hanya 15 kota/kabupaten di seluruh Indonesia yang diberi program tersebut oleh pemerintah pusat.

Perombakan dimulai meski harus perlahan. Tak cuma produk yang berubah dari cetak menjadi serbuk. Lebih dari itu, pembenahan proses produksi dari hulu sampai hilir dilakukan. Dari petani
sampai perajin pembuat gula. Dapur-dapur produksi di rumah-rumah warga tak boleh kumuh. Bahan-bahan pendukung, termasuk bahan pencegah fermentasi, tak lagi mengandung kimia. Semua kembali pada bahan alami dari tumbuhan-tumbuhan organik.

Kadar air juga tak boleh lebih dari 2%. Itu pula yang menyebabkan produk ini bisa tahan sampai 2 tahun. Deretan pembenahan ini yang membuat produk gula semut asal Pangandaran diganjar sertifikasi PIRT, hanya beberapa bulan setelah program BDC dilangsungkan. Dengan sertifikat itu, pasar mulai terbuka lebar. Salah satunya, bisa menembus toko ritel modern.

“Ritel juga kan ingin produk yang mereka jual terjamin. Dengan sertifikat itu kami tak perlu lagi menjelaskan bahwa produk ini sehat, alami, bebas kimia, atau lainya,” ujar Ramhdani.

Seiring meluasnya pasar dan meningkatnya keuntungan, makin banyak pula perajin gula yang bergabung dalam produksi gula semut. Dari awalnya hanya 54 orang, kini menembus 140 orang di Kecamatan Pangandaran. Kapasitas produksi pun sudah mencapai 8-10 ton per bulan. Saat ini, dari kapasitas produksi itu, rata-rata 3 ton di antaranya diperuntukkan bagi pasar Jepang dan Eropa, meski proses penjualannya masih melalui perantara eksportir gula di Purwokerto, Jawa Tengah.

Oleh karena itu pula, BDC mulai berpikir untuk mendapatkan sertifikasi yang lebih tinggi untuk produk gula semut Pangandaran. Apakah itu SNI (Standar Nasional Indonesia), HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) untuk merek dagang, bahkan sertifikasi organik internasional. Dengan sertifikasi organik internasional yang penilaiannya sangat detail dan bisa menghabiskan waktu sampai 1,5 tahun itu, proses ekspor bahkan bisa dilakukan secara mandiri dari Pangandaran.

“Pasti ada pemikiran untuk tidak numpang (ekspor) lagi, walaupun tentu prosesnya panjang. Lagipula sertifikasi seperti itu juga kan kebutuhan, untuk menghasilkan kepercayaan pembeli,” ujar Ramhdani.

Memperoleh sertifikasi produk maupun merek, jelas tidak mudah. Hal ini diakui Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu Koperasi UMKM dan Perdagangan Kabupaten Pangandaran, Tedi Garnida. Apalagi, kata dia, untuk sertifikasi yang dikeluarkan oleh lembaga di level tinggi, seperti pemerintah pusat bahkan lembaga internasional. Selain standar yang ketat, akses juga bisa menjadi masalah tambahan.

“Tapi di sinilah peran pemerintah. Misal untuk SNI, kan bisa difasilitasi oleh pemerintah provinsi untuk menghubungkan ke sana, membantu prosesnya. Gula semut menjadi produk unggulan Pangandaran yang sudah bisa menembus pasar internasional selain ikan olahan perusahaan bu Susi (Pudjiastuti),” ucap Tedi.***
Bagikan: