Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sebagian cerah, 28 ° C

10 Ekor Kukang Dilepasliarkan

Nurhandoko
CIAMIS, (PR).- Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Satwa International Animal Rescue (IAR) Indonesia dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) melalui KSDA Wilayah III Bidang Ciamis, Jawa Barat mengembalikan sepuluh ekor kukang ke habitat aslinya di Suwaka Margasatwa Gunung Sawal, Kabupaten Ciamis. Sebelum dilepasliarkan binatang dengan bola mata besar, menjalani rehabilitasi selama 6 - hingga 12 bulan.

"Jumlah kukang yang dilepas kali ini terdiri dari lima individu jantan dan lima individu betina. Berasal dari serahan masyarakat ke BKSDA dan serahan langsung ke Pusat Penyelamatan IAR Indonesia lewat kanal ,” ujar Dokter Hewan IAR Indonesia, Nur Purba Priambada.

Didampingi Staf Media Yiari YIARI, Risanti, dia mengatakan pelepasliaran sepuluh ekor kukang, dua diantaranya bernama Puntang dan Bidang, berlangsung Sabtu 18 Februari 2017. Binatang nokturnal atau aktif dimalam hari itu sebelumnya menjalani masa rehabilitasi di pusat rehabilitasi IAR di kaki Gunung Salak Bogor.

“Kondisi awal kukang saat pertama kali datang sangat memprihatinkan, beberapa kurus dan mengalami luka seperti kukang bernama Puntang dan Bidang,” ujar Purbo.

Puntang adalah kukang betina serahan masyarakat pada 2016 lalu. Pelapornya mengontak kanal kampanye kukangku, serta mengantarnya ke Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia. Pada saat itu, lanjutnya tangan kanan Puntang luka parah seperti terkena jerat. Sedangkan kondisi Bidang pada bagian perut dan tangan luka, akibat sengatan aliran listrik.

"Tim medis terpaksa mengamputasi seluruh jarinya agar infeksi tidak menyebar. Beruntung kondisi Puntang saat itu masih liar dengan formasi gigi yang lengkap sehingga pemulihannya berangsur cepat hingga waktu pelepasliaran," ucapnya.

Kepala Bidang KSDA Wilayah III Ciamis, Himawan Sasongko, menjelaskan pelepasliaran kukang jawa di kawasan Suaka Margawastwa (SM) Gunung Sawal merupakan salah satu upaya untuk mendukung berlangsungnya proses ekologis di dalam kawasan. Selain itu menjaga dan meningkatkan populasi jenis primata sebagai satwa endemik yang jumlahnya kian minim.

"Sejak tahun 2014 sebanyak sekitar 25 kukang hasil rehabilitasi IAR dan serahan warga ke BKSDA Ciamis sudah dilepasliar ke SM. Gunung Sawal. Lokasi tersebut merupakan salah satu habitat alami kukang jawa yang penting di wilayah Ciamis," tuturnya.

Selain kukang, lanjutnya, SM Gunung Sawal juga masih terdapat binatang dilindungi lainnya, bahkan juga merupakan kantong habitat macan tutul jawa. " Hasil kajian tim IAR dan Bidang KSDA, kawasan tersebut memiliki potensi cukup bagus dari segi ketersedian pakan, tempat berlindung dan air sebagai komponen penting suatu habitat,” ujar Himawan.

Sementara Risanti mengatakan Kukang (Nycticebus sp) atau yang dikenal dengan nama lokal malu-malu merupakan primata nokturnal (aktif malam hari, termasuk dalam Apendiks I oleh CITES (Convention International on Trade of Endangered Species). Artinya dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional. Ada tiga jenis kukang di Indonesia, Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) dan Kukang Kalimantan (Nycticebus menagensis).***
Bagikan: