Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sebagian berawan, 26.3 ° C

Agar tak Tergantung Elpiji, Karang Taruna Ciptakan Kompor Bahenol

Ahmad Rayadie
SALAH seorang anggota Karang Taruna Citamiang Kota Sukabumi, memperlihatkan penggunaan kompor bahenol., Senin 13 Februari 2017. Kompor ini adalah hasil inovasi para pemuda karang taruna yang merupakan bentuk keprihatinan semakin mahalnya harga gas LPG bagi masyarakat.*
SALAH seorang anggota Karang Taruna Citamiang Kota Sukabumi, memperlihatkan penggunaan kompor bahenol., Senin 13 Februari 2017. Kompor ini adalah hasil inovasi para pemuda karang taruna yang merupakan bentuk keprihatinan semakin mahalnya harga gas LPG bagi masyarakat.*

SUKABUMI, (PR).- Berawal dari keprihatinan semakin mahalnya harga gas LPG bagi masyarakat, belasan pemuda Karang Taruna Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, melakukan terobosan yang patut dibanggakan. Mereka mengajak warganya untuk berinovasi dengan memanfaatkan sumber energi alternatif pengganti bahan bakar minyak (BBM).

Mereka berinovasi menciptakan kompor yang berbahan bakar spiritus. Kompor ini diberi nama kompor bahenol karena berbahan bakar methanol. Tujuannya, untuk mengurangi ketergantuangan masyarakat akan gas elpiji sekaligus ramah lingkungan. 

"Kami melakukan berbagai terobosan membuat kompor yang berhan bakar alternatif selain gas elpiji," kata Ketua Pemuda Karang Taruna Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi Engkus Kuswara. Menurut dia, kompor hasil inovasi karang taruna ini diharapkan dapat membantu warga golongan ekonomi lemah untuk tetap beraktivitas memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Engkus Kuswara mengatakan pemamfaatan 1 liter methanol pada kompor bahenol ternyata setara dengan satu kilogram gas LPG. Bahkan, kekuatannya kompor mampu bertahan selama 16 jam. Selain itu, pemamfaatkan kompor bahenol relatif murah. Hanya merogoh uang membeli methanol seharga Rp 7.500 per liter, maka penggunanya dapat mnggunakannya seharian.

"Bahkan warga tidak perlu susah-susah mengganti sumbu. Kompor ini sangat ramah lingkungan. Warga tidak perlu susah-susah mencuci peralatan rumah masak karena tidak mengotori alat masak," katanya.

Kompor bahenol kini mulai diminati warga, terutama warga yang jauh dari perkotaan. Alasan mereka membeli kompor bahenol, salah satunya karena selalu dibayangi kelangkaan gas elpiji. "Sebagian besar warga yang memesan kompor bahenol berasal dari perkampungan yang berada jauh dari kota kecamatan. Mereka berharap membeli kompor ini, tidak cemas terjadi kelangkaan serupa pada gas elpiji," katanya.

Untuk memenuhi permintaan kompor bahenol yang terus meningkat, mereka akan membentuk kelompok usaha bersama (Kube). "Setiap anggota memiliki tugas masing-masing. Tidak semua mampu membuat kompor bahenol ini, tapi juga meliputi pemasarannya," katanya.***

Bagikan: