Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Sebagian berawan, 20.1 ° C

Kesejukan Masjid Bambu di Tengah Panasnya Cirebon

Ani Nunung Aryani
JEMAAH salat Jumat mulai meninggalkan Masjid As-Shamad di Jalan Suratno Kota Cirebon Jumat 3 Februari 2017. Masjid yang berlokasi sekitar 500 meter belakang gedung DPRD Kota Cirebon ini dibangun dengan arsitektur tropis, terlihat unik dan artistik. Semua materialnya terbuat dari bambu.*
JEMAAH salat Jumat mulai meninggalkan Masjid As-Shamad di Jalan Suratno Kota Cirebon Jumat 3 Februari 2017. Masjid yang berlokasi sekitar 500 meter belakang gedung DPRD Kota Cirebon ini dibangun dengan arsitektur tropis, terlihat unik dan artistik. Semua materialnya terbuat dari bambu.*

CIREBON, (PR).- Rahmat (25) menyandarkan badannya di tiang bambu di beranda Masjid As-Shamad, Jumat 3 Februari 2017. Meski jamaah salat Jumat yang mememuhi masjid seluas sekitar 120 m2 ini sudah membubarkan diri, pegawai swasta di salah satu perusahaan di Kota Cirebon ini terlihat enggan beranjak dari beranda masjid.

"Enak di sini, adem, teduh, anginnya semilir, seperti bukan di Cirebon. Semua beban rasanya hilang kalau sudah di masjid bambu. Pokoknya nyesss..." katanya, berusaha menggambarkan perasaannya. Menurut Rahmat, sebenarnya banyak pilihan masjid untuk salat Jumat di sekitar kantornya, namun Rahmat mengaku selalu berusaha untuk bisa salat di Masjid As-Shamad.

"Auranya serasa berbeda saja kalau di sini. Mungkin karena energi material alaminya, ya dari bambu, ijuk, batu, kerang dan pepohonanan yang rindang. Kita seperti dibawa ke alam pedesaan yang jauh dari kebisingan kota yang sumpek dan panas," katanya lagi.

Masjid As-Shamad yang dibangun keluarga Watid Syahriar di Jalan Suratno nomor 31 A gang Sepakat Kota Cirebon ini, memang unik dan artistik. Masjid yang berlokasi sekitar 500 meter belakang gedung DPRR Kota Cirebon, dibangun dengan arsitektur tropis.

Material semua serba alami mulai dari bambu kuning untuk konstruksi utama dan penunjang, ijuk untuk atap, batu untuk dinding dan kerang untuk ornamen hiasan podium dan lampu utama. Suhu udara Cirebon yang cukup menyengat, diantisipasi dengan bangunan yang serba terbuka dan atap yang tinggi.

"Kalau harus dengan konstruski biasa, minimal dibutuhkan dana Rp 400 juta. Namun dengan gaya terbuka seperti ini, hanya habis sekitar Rp 130 juta, sudah lengkap dengan segala perlengkapan dan hiasan yang ada," kata Watid yang juga Ketua Komisi B DPRD Kota Cirebon. Menurut Watid, semua bahan diperoleh dari sekitar Cirebon. Waktu pembangunan sekitar enam bulan, pada awal 2016.

Ia mengakui, karena tidak ada perlakuan khusus terhadap material bambu kuning yang digunakan, Watid tidak bisa menjamin usia mesjid bambu bisa tahan lama. "Harusnya kan bambu yang akan digunakan direndam dulu di kolam selama sekitar setahun, baru digunakan. Namun karena kebutuhan akan mesjid di sekitar sini sudah mendesak, bambu yang dipanen tidak lama langsung digunakan," katanya.

Nama As-Shamad menurut Watid diambil dari Asmaul Husna As-Shamad, yang artinya Maha Bergantung. "Kalau kita tidak punya rasa ketergantungan kepada Allah swt kayanya kita akan menjadi pribadi yang merasa hebat atau jemawa. Padahal kita hanya sebutir debu," katanya. ***

Bagikan: