Pikiran Rakyat
USD Jual 14.235,00 Beli 13.935,00 | Berawan, 20.6 ° C

Petani tak Nikmati Tingginya Harga Cabai

Tati Purnawati
SEJUMLAH buruh tani sedang memetik cabai rawit di Desa Cibodas, Kecamatan Majalengka. Harga cabai rawit di tingkat petani kini hanya Rp 30.000 per kilogram sedangkan di pasaran mencapai Rp 80.000.*
SEJUMLAH buruh tani sedang memetik cabai rawit di Desa Cibodas, Kecamatan Majalengka. Harga cabai rawit di tingkat petani kini hanya Rp 30.000 per kilogram sedangkan di pasaran mencapai Rp 80.000.*

MAJALENGKA, (PR).- Petani cabai rawit di Kabupaten Majalengka tidak menikmati mahalnya harga cabe di pasaran yang mencapai Rp 80.000 per kilogram. Harga di tingkat petani hanya mencapai Rp 27.000 per - 30.000 per kilogram.

“Biasa harga di pasar mah selalu tinggi tapi di tingkat petani selalu jauh lebih rendah dibanding konsumen membeli di pasar,” kata Imik salah seorang petani cabe di Kelurahan Cicurug, Majalengka, Minggu, 8 Januari 2017.

Harga cabai di tingkat petani menurutnya selalu fluktuatif. Ketika harga cabai rawit di pasaran sempat turun empat hari yang lalu sampai Rp 60.000 per kilogram di tingkat petani harganya hanya sebesar Rp 20.000-19.000 per kilogram.

Menurut Imik, bila petani ingin menikmati mahalnya harga cabai seperti yang terjadi di pasaran, petani harus berusaha menjadi pengecer di pasar tradisional. Karena bila dijual seluruhnya ke Pasar Induk harga tetap rendah.

“Saya saja kalau panen 80 kilo sampai 1 kuintal, sebagian saya ecerkan di pasar tradisional atau di jual di rumah, karena kebetulan saya buka warung,” ungkap Imik.

Hal senada disampaikan petani cabai di Desa Mekarjaya, Kecamatan Palasah. Mereka mengaku, hanya mampu menjual paling tinggi sebesar Rp 30.000 per kilogram. Harga sebesar itu saat harga di pasaran mencapai Rp 80.000 - 90.000 per kilogram.

“Harga di petani memang tidak semahal harga di pasaran, perbedaan harga selalu jauh. Tapi dengan harga seperti ini pun kami bersyukur karena harga terbilang menguntungkan dibanding biasanya, sayangnya kami tidak menanam sebanyak sekarang,” kata Nana.

Petai saat ini tidak banyak yang menanam cabe karena lahan yang biasanya dipergunakan untuk menanam cabe saat musim penghujan dipergunakan untuk tanaman padi, memasuki musim penghujan kebanyakan tanaman cabe dilakukan di kebun.

“Kebun cabe yang saya milikipun adalah tanaman yang sudah lama, sehingga sudah kurang produktif, namun kini dipaksanakn dipertahankan karena harga yang lumayan tinggi bila dibanding biasanya,” ungkap Nana.

Menurutnya, mahalnya harga  cabai karena areal tanaman sedikit serta hujan yang terus menerus sehingga pembuahan kurang. Bunga membusuk, cabai yang sudah berbuah pun mudah busuk.***

Bagikan: