Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sebagian berawan, 18.8 ° C

Ada Sindikat Jaksa Gadungan di Bekasi

Tommi Andryandy
NANO Supriyanto (49) tersangka petugas jaksa gadungan ditangkap Kepolisian Resor Metro Bekasi. Dalam gelar perkara, Jumat 6 Januari 2017 terungkap bahwa tersangka mencoba memeras kepala desa dengan mengaku sebagai petugas intelijen Kejaksaan Negeri Cikarang.*
NANO Supriyanto (49) tersangka petugas jaksa gadungan ditangkap Kepolisian Resor Metro Bekasi. Dalam gelar perkara, Jumat 6 Januari 2017 terungkap bahwa tersangka mencoba memeras kepala desa dengan mengaku sebagai petugas intelijen Kejaksaan Negeri Cikarang.*
CIKARANG, (PR).- Kepolisian Resor Metro Bekasi melakukan gelar perkara terkait penangkapan Nano Supriyanto (49), Jumat 6 Januari 2017. Dalam gelar perkara, terkuak bahwa jaksa gadungan itu rupanya anggota sindikat pemerasan. Para kepala desa pun menjadi sasaran utama sindikat tersebut.

Sindikat itu kerap mengaku sebagai petugas kejaksaan untuk mengelabui korban. Tidak jarang, mereka berdalih sebagai pewarta dengan membekali diri kartu identitas kewartawanan. Dari keterangan tersangka, polisi kini tengah memburu anggota lain sindikat tersebut.

"Adanya seseorang yang mengaku anggota intelijen Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi. Mereka berbekal surat perintah tugas dan kartu identitas kejaksaan dan juga punya kartu pers. Tersangka ini kami tangkap. Setelah kami kembangkan, ternyata aksi ini adalah sindikasi. Kepolisian sedang mengejar pelaku di belakang kegiatan teroganiasir ini," kata Kepala Polresta Metro Bekasi Kabupaten, Asep Adisaputra.

Sindikat itu terungkap saat penyidik meminta keterangan tersangka terkait atribut yang digunakan. Selain surat tugas dan kartu identitas palsu, polisi pun mendapati kaos, topi, serta dokumen kejaksaan lain. Dari keterangan itu, tersangka mengaku mendapatkannya dari seorang teman yang tidak lain anggota sindikat.

"Untuk topi (berlogo kejaksaan) awalnya tersangka mengaku membuat dari tukang bordir tapi ternyata dia dapat dari rekan sindikatnya. Kami sudah kantongi identitas sindikat ini yakni W dan M. Mereka sedang berada dalam pengejaran karena kedua orang itu yang menginspirasi tersangka melakukan aksinya," kata dia.

Menurut Asep, tersangka mengaku baru tiga bulan melakukan aksinya. Dua kepala desa sudah menjadi korbannya.

"Mengakunya hanya kepala desa di wilayah Kecamatan Serangbaru namun kami tidak memercayai itu. Informasi yang diterima, dia dan sindikatnya sudah melakukan aksi ini di seluruh Kabupaten Bekasi. Saat aksi terakhir, ada kepala desa yang melapor sehingga kami tangkap," kata dia.

Nano ditangkap setelah mencoba memeras salah seorang kepala desa. Nano awalnya berdalih datang untuk sosialisasi pencegahan korupsi. Namun, dalam pembicaraan dengan kepala desa itu, Nano berupaya menekan dengan menuduh kepala desa melakukan penggelapan. Kepala desa dituduh menggelapkan anggaran program rumah tidak layak huni.

"Kepala desa itu melapor pada Polsek Serangbaru. Kemudian dikonfirmasikan pada Kejari Kabupaten Bekasi, ternyata Nano bukan petugasnya. Untuk itu, kami sepakat untuk menjebak tersangka. Pada hari selanjutnya, ternyata benar tersangka datang. Tidak lama, langsung dilakukan penangkapan," kata dia.

Selain memeras korban, polisi menemukan modus baru yang digunakan tersangka yakni dengan menjual buku. Tersangka pun mencoba menjual buku yang berisi tentang kumpulan aturan Kementerian Dalam Negeri. Dengan sedikit penekanan, buku seharga Rp 150.000-200.000 itu dijual Nano dengan Rp 2 juta.

"Jadi buku ini sebenarnya dia beli di pasaran biasa tapi dia jual dengan harga tinggi. Itu ternyata dibeli para korban karena ada tekanan psikis yang dilakukan tersangka. Korban pun merasa tertekan karena tersangka mengaku sebagai anggota kejaksaan," kata Asep.

Atas perbuatan yang dilakukan itu, kata Asep, tersangka dijerat dua pasal sekaligus yakni pasal 368 tentang pemerasan dan 378 tentang penipuan KUHP Pidana. "Pasal ini ancaman hukumannya maksimal sembilan tahun," kata dia.***
Bagikan: