Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 25.1 ° C

Sejarah Indramayu Perlu Dikaji Lagi

Hilmi Abdul Halim
PARA ahli bidang arkeologi dan pengamat sejarah budaya Indramayu berbicara dalam seminar "Cimanuk: Perspektif Arkeologi Sejarah dan Budaya di Gedong Bumi Patra Kabupaten Indramayu, Kamis 13 Oktober 2016. Mereka mendorong pemerintah melakukan pengkajian lebih lanjut tentang sejarah Indramayu.*
PARA ahli bidang arkeologi dan pengamat sejarah budaya Indramayu berbicara dalam seminar "Cimanuk: Perspektif Arkeologi Sejarah dan Budaya di Gedong Bumi Patra Kabupaten Indramayu, Kamis 13 Oktober 2016. Mereka mendorong pemerintah melakukan pengkajian lebih lanjut tentang sejarah Indramayu.*
INDRAMAYU, (PR).- Beberapa ahli arkeologi dan para pengamat sejarah menganggap sejarah Indramayu perlu dikaji lebih lanjut. Alasannya, mereka menemukan sejumlah penafsiran baru mengenai perjalanan Kabupaten Indramayu yang perlu diterlusuri kebenarannya.

Berbagai kritik atas penulisan sejarah Indramayu saat ini terungkap dalam Seminar bertajuk "Cimanuk: Persprektif Arkeologi, Sejarah dan Budaya" di Gedong Bumi Patra, Singajaya Kabupaten Indramayu, Kamis 13 Oktober 2016. Seminar itu diisi Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia Agus Aris Munandar, serta dua orang pemerhati sejarah dan budaya Indramayu Supali Kasim dan Agung Nugroho.

Menurut mereka, sejarah Indramayu saat ini hanya bersumber dari Babad Dermayu. Sumber tersebut kemudian diterjemahkan dalam suatu seminar sejarah dan budaya pada 1976. Satu tahun kemudian, hasil seminar tersebut akhirnya ditulis dalam buku dan dijadikan referensi sejarah Indramayu hingga saat ini. Supali mengaku meragukan hasil dari seminar tersebut.

"Karena dalam seminar itu tidak ada akademisi yang ada hanya sejarawan tradisional yang masing-masing membawa naskah babad. Sehingga tidak ada pengkajian akademis. Yang ada naskah babad diterjemahkan kemudian dianggap sejarah," katanya menjelaskan.

Menurut Supali, metode penulisan sejarah menyebut legenda, babad dan sebagainya itu hanyalah sehelai benang. Sedangkan sejarah merupakan kain dari benang-benang tersebut. Ada setidaknya empat tahap menetapkan sejarah yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Ia meyakini penulisan sejarah Indramayu tidak melewati tahap kritik dan interpretasi terlebih dulu.

Ia mengatakan, isi buku sejarah Indramayu seharusnya dikaji lebih lanjut seperti disebutkan dalam pengantar buku tersebut. "Artinya mereka (para penulis) juga tidak menyatakan (buku sejarah Indramayu) ini final. Harus ada kelanjutan," kata Supali menambahkan.

Salah satu sejarah yang ditetapkan saat itu adalah hari jadi Indramayu pada 7 Oktober 1527. Supali mengaku memahami penetapan tersebut sebagai suatu kebutuhan Pemerintah Daerah saat itu. Upaya pengkajian menurutnya bukan untuk mengubah tanggal tersebut. "Saya mengambil jalan tengah dengan menghargai pendapat orang-orang tua kita terdahulu sebagai latar sejarah tradisional," katanya.

Selain itu, ia meyakini banyak terdapat narasi bermakna ambigu dalam sejarah Indramayu yang beredar saat ini. Seperti halnya keterangan apakah Nyi Endang Dharma itu menceburkan diri ke Sungai Cimanuk atau menikah terlebih dulu dengan Raden Wiralodra.

Sementara itu, Arkeolog Agus Aris Minandar juga mengungkapkan sejumlah penafsiran baru tentang Nyi Endang Dharma. Salah satunya, sosok Nyi Endang Dharma, Nyi Mas Gandasari atau Nyi Mas Ratu Panguragan adalah sosok terpisah satu sama lainnya. Ia menduga Nyi Endang Dharma berasal dari keturunan petinggi masyarakat Buddhapaksa yang diriwayatkan pernah tinggal di sekitar muara Sungai Cimanuk.

"Setiap generasi itu berhak menulis ulang sejarahnya sesuai dengan temuan-temuan data yang baru. Bukan untuk menyangkal yang ada, jadi temuan arkeologi saat itu kan masih kurang dan sekarang ada temuan-temuan baru jadi bisa melengkapi,” kata Agus menerangkan. Ia tidak mempermasalahkan hasilnya akan berbeda dari sejarah sebelumnnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Indramayu Odang Kusmayadi menyambut baik keinginan tersebut. Ia mengakui pemerintah daerah kerap kesulitan melakukan penelitian lebih lanjut terkait sejarah Indramayu karena kekurangan dana. "Tapi nanti akan kami pertimbangkan untuk pengkajian sejarah Indramayu lebih lanjut," katanya.***
Bagikan: