Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 23 ° C

Korban Prostitusi Anak Harus Segera Dipulihkan

Dewiyatini
BANDUNG,(PR).- Anak yang dijadikan objek dalam prostitusi sejenis merupakan korban yang harus segera dipulihkan. Sedangkan pelaku harus segera diproses ke pengadilan.

Hukuman yang dijatuhkan nantinya bisa diberikan tambahan hukuman atau pemberatan. Sesuai peraturan Pemerintah pengganti undang-undang (Perpu) No. 1 Tahun 2016 tentang hukuman kebiri pelaku kejahatan seksual terhadap anak, tambahan hukuman itu pengumuman identitas pelaku, kebiri kimia, dan pemasangan alat deteksi elektronik.

Sedangkan pemberatan pidana berupa tambahan pidana sepertiga dari ancaman penjara paling singkat 10 tahun dan paling lama 20 tahun. Selain itu, ancaman hukuman seumur hidup dan hukuman mati pun masuk ke pemberatan pidana.

"Bila dari proses pengadilan ditemukan adanya traumatik yang mendalam maka dapat diterapkan keduanya baik hukuman tambahan maupun pemberatan," kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa seusai meresmikan gedung pascasarjana Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung di Jalan Juanda, Jumat, 2 September 2016.

Traumatik yang mendalam itu dapat dilihat dari hasil psikososial terapi. Selain itu dapat dilihat dari hasil tes darah dan tes urine. Apabila hasilnya menunjukkan adanya penyakit menular kelamin yang ditularkan akibat praktik prostitusi tersebut, akan memberatkan hukuman pelaku.

Menurut Khofifah, saat ini, anak-anak yang menjadi korban prostitusi di Bogor telah menjalani dua kali tes darah dan urine. Ia mengharapkan tidak ditemukan adanya infeksi penyakit berbahaya.

Khofifah mengaku telah membaca curahan hati anak-anak tersebut yang kini berada di rumah perlindungan. Mereka, kata Khofifah, mengaku sudah menjadi orang yang berorientasi seksual sejenis. Kendati demikian, mereka tetap merindukan rumah dan orang tuanya, serta ingin segera dipulihkan.

"Kami sekarang tengah mencari format pemulihan yang tepat sesuai dengan kedalaman traumatik mereka. Karena pemulihan tiap anak pasti berbeda," ucapnya.

Lebih lanjut Khofifah menyebutkan, tahap awal bagi anak yang masih sekolah adalah dengan mencarikan sekolah yang dekat dengan rumah perlindungan. Hak anak untuk mendapatkan pendidikan harus tetap dijamin. Secara bersamaan, kondisi psikisnya juga dipulihkan. Pemulihan juga dilakukan terhadap keluarga korban.***
Bagikan: