Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Umumnya berawan, 27.9 ° C

Sumber Daya Energi Akan Jadi Sumber Peperangan

Bambang Arifianto
PANGLIMA Tentara Nasional Indonesia Gatot Nurmantyo memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa baru Universitas Indonesia di Balairung UI, Kota Depok, Senin 1 Agustus 2016. Gatot mengungkapan perang atau konflik di masa datang akan dipicu perebutan sumber daya energi.*
PANGLIMA Tentara Nasional Indonesia Gatot Nurmantyo memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa baru Universitas Indonesia di Balairung UI, Kota Depok, Senin 1 Agustus 2016. Gatot mengungkapan perang atau konflik di masa datang akan dipicu perebutan sumber daya energi.*
DEPOK, (PR).- Perang atau konflik di masa depan akan dipicu perebutan sumber daya energi. Indonesia pun menjadi incaran kepentingan negara-negara asing guna dikuras sumber daya alamnya dan dijadikan konsumen produk mereka. Hal itu mengemuka dalam kuliah umum Panglima Tentara Nasional Indonesia Gatot Nurmantyo dalam Kegiatan Mahasiswa Baru Universitas Indonesia di Balairung UI, Kota Depok, Senin 1 Agustus 2016.

"Tujuh puluh persen konflik di dunia, minimal berlatang belakang energi," ucap Gatot.‎ Potensi konflik berlatar belakang perebutan energi sudah terlihat di beranda tanah air, yakni Laut Tiongkok Selatan. Sengketa Laut Tiongkok Selatan yang melibatkan Tiongkok, Taiwan, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei Darussalam itu bukan sekadar terkait perebutan jalur strategis penghubung Samudera Hindia dengan Pasifik.

Gatot menuturkan, Laut Tiongkok Selatan merupakan pintu masuk yang vital bagi perdagangan di Asia Timur. Sebanyak 85 persen impor energi Tiongkok dan pasokan minyak bagi Jepang dan Korea melewati perairan tersebut. Selain itu, Laut Tiongkok Selatan merupakan ekosistem laut yang luas dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Posisi Indonesia bisa masuk dalam pusaran konflik atau perang bermotif perebutan dan pengamanan sumber daya alam.

"Indonesia adalah tempat yang sangat indah, tempat energi ada, pangan ada dan akan menjadi sasaran. Itu kita harus waspada," tutur Gatot. Soalnya, pertambahan jumlah penduduk dunia semakin tak terkendali dan energi akan segera habis. "Sekarang sudah mulai terasa. Apakah anak cucu kita bisa hidup laik 27 tahun lagi," ujarnya. Pada 2043, tutur Gatot, jumlah penduduk dunia diperkirakan mencapai 12,3 miliar. Sebanyak 80,2 persen atau 9,8 miliar jiwa dari jumlah itu hidup di luar wilayah ekuator atau kaya sumber daya alam.

Latar belakang konflik yang saat ini terkait penguasaan energi fosil berubah menjadi penguasaan sumber pangan, air bersih, dan energi hayati di satu lokasi, yaitu daerah ekuator. Sebanyak 9,8 miliar manusia yang kelaparan tersebut akan menjadikan Indonesia target guna dikuasai dan diambil sumber daya alamnya.

Penguasaan itu dilakukan dengan cara halus. "Kalau saya jadi presiden di luar wilayah ekuator, saya akan menguasai media massa untuk membetuk opini dan (melakukan) rekayasa sosial," ujar Gatot. Penguasaan secara halus, lanjutnya, dilakukan melalui perang proxy (proxy war). Perang proxy adalah konfrontasi dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti guna menghindari konfrontasi secara langsung. Pihak pengganti itu bisa berupa negara kecil atau organisasi massa (ormas), lembaga swadaya masyarakat (LSM), kelompok masyarakat dan perorangan.***‎
Bagikan: