Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 22 ° C

Prostitusi Rumahan: Saat Stigma Jadi Dilema di Pagaden

Yusuf Wijanarko

Hari ke-3

-6.456337, 107.812611

SULIT menceritakan fakta yang saya temui di sini jika harus tetap mengindahkan norma dan etika benar-salah maupun baik-buruk. Jadi, saya sampaikan saja apa adanya.

Prostitusi terjadi secara terselubung tetapi sekaligus juga terang-terangan. Terselubung karena berlangsung di tengah permukiman warga dan bukan di lokalisasi.

Terang-terangan karena kegiatan itu diketahui warga termasuk orang tua si perempuan pekerja seks komersial.

Contoh paling umumnya, saat sang anak perempuan tengah berduaan dengan tamu di dalam kamar, ibu-bapaknya menyuguhkan minuman beralkohol dan makanan untuk tamu tersebut.

Semuanya berlangsung di dalam rumah mereka. Seringnya, praktik prostitusi dilakukan di dalam kamar yang hanya dibatasi dinding triplek dengan kamar ibu-bapaknya, tidak peduli siang atau malam.

Keberadaannya benar benar sulit terdeteksi. Jika dilihat sepintas, pemukiman itu tampak seperti pemukiman pada umumnya. Padat tapi tidak terlalu kumuh dengan banyak gang sempit bak labirin. Di sela-selanya masih terdapat beberapa petak kebun.

Kenyataan itu saya dapati ketika tengah beristirahat di warung kecil dalam perjalanan dari Pagaden menuju Blanakan. Melihat saya memanggul tas besar, seorang pengojek menghampiri dan berkata, "Ojek Mas?" Sebentar ia diam lantas kembali bertanya dengan suara lebih pelan "Apa mau dianter jajan? Tenang Mas, aman kok soalnya ini di rumah."

Masyarakat di Subang tengah termasuk Pagaden cenderung cuek. Di Subang Utara yang berbatasan dengan laut, masyarakatnya selain cuek juga kurang punya empati. Begitulah tatanan sosial masyarakat Subang dari sudut pandang polisi.***

Bagikan: