Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 21.2 ° C

Berburu Daun Jati untuk Dapatkan Rp 50.000,00/Hari

Tati Purnawati
MAJALENGKA,(PR).- Dua wanita setengah baya terus memetik daun jati dengan ani-ani di tangannya seperti layaknya orang sedang memanen padi. Teriknya matahari, rumput ilalang hingga setengah badan pun ditempuhnya hingga tak takut lagi dengan ular ataupun ulat yang mungkin menempel di dedaunan.

Kartinah (60) dan Unimah (57) warga warga Blok Pejaganasem, Desa Kedungbunder, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon serta Uti (65) dan Icah (64) warga Kutamanggu, Kecamatan Sukahaji, Kabuaten Majalengka mengaku setiap hari memetik daun jati ke hutan untuk mendapatkan uang Rp 20.000 hingga Rp 50.000.

Kartinah dan sepupunya setiap hari berangkat dari rumah usai salat subuh agar tiba di kebun masih pagi, sehingga saat siang mereka sudah memperoleh daun jati yang cukup untuk dijual kepada pengepul yang datang ke rumahnya.

“Saya berangkat dari rumah setelah salat subuh membawa tali untuk mengikat daun, air minum, makanan, balon karet dan ani-ani (sunda:etem) karena untuk memetik daun jati ini menggunakan etem,” ungkap Kartinah yang mengaku terkadang memetik daun jati ke perbatasan wilayah Kertajati dan Indramayu serta Sumedang.

Tiba di perkebunan sekitar pukul 06.00 WIB mereka langsung membungkus dua jari tangan kanannya dengan menggunakan balon untuk menghindari tangannya terkena sayatan etem, serta topi dan sepatu boot menghindari agar kakinya tidak terkena tusukan kayu atau tunggul pohon jati yang runcing. Setelah itu menyusuri kebun jati, tak peduli kebun milik siapa alasannya pemiliknya selalu memperbolehkan daun-daun jati tersebut diambil.

Setelah memperoleh daun jati hingga satu gulungan besar dengan diameter 1m X 1m mereka baru berhenti memetik. Untuk memperoleh daun jati sebanyak itu merka harus bekerja hingga pukul 13.00 WIB.

Tiba di rumah mereka kembali mengemas daun jati dan mengikatnya dengan daun eurih masing-masing sebanyun sebanyak itu dijual seharga Rp 300 kepada pengepul untuk selanjutnya dipergunakan membungkus nasi jamblang. “Pembeli nanti datang ke rumah, kami hanya melipatnya tiga lembar-tiga lembar,” kata Unimah.

Dari hasil penjualan daun tersebut mereka memperoleh uang sebesar Rp 50.000. Uang sebesar itu esoknya dipergunakan kembali untuk ongkos kerja mencari daun sebesar Rp 20.000, sehingga sisa uang bersih yang dipergunakannya hanya Rp 30.000 per hari.

“Uang ini untuk menghidupi empat anak saya yang menginjak remaja,” tutur Kartinah yang diiayakan Unimah.

Keduanya mengaku janda yang sama-sama harus membesarkan dan menghidupi empat anak mereka masing-masing yang juga belum menikah.

Demikian juga dengan Uti dan Icah, kedua wanita ini pergi ke kebun hanya mengenakan sandal jepit dan bekal etem serta tali, tak ada makanan atau air yang dibawa seperti pemetik daun lainnya. Merekapun menjual daunnya ke pasar Majalengka kepada penjual pindang. Mereka mengaku hanya memperoleh uang sebesar Rp 20.000 saja dari hasil penjualan daunnya. Uang sebesar itu belum dikurangi ongkos angkut kendaraan ke pasar sebesar Rp 8.000.

Uang hasil penjualan daun jati tersebut katanya untuk membeli lauk pauk dan sabun, karena beras untuk makan bisa diperoleh dari hasil derep (buruh panen) atau raskin walau tidak seberapa. Meski usia tua mereka nampak tak mau mengandalkan hidupnya dari hasil pemberian orang lain. Semangat kerja keduanya masih tetap tinggi, walapun jalannya sudah mulai lambat dan terkadang untuk menyebrang jalanpun sulit terutama disaat lalulintas ramai kendaraan.***
Bagikan: