Pikiran Rakyat
USD Jual 14.048,00 Beli 14.146,00 | Cerah berawan, 31.2 ° C

Pengembang Pasar Limbangan Jelaskan Rencana Pembuatan Sumur Bor

Munady
GARUT, (PRLM).- Permasalahan Pasar Limbangan sampai saat ini belum tuntas. Pertemuan empat arah antara Pemda Garut, Paguyuban Pedagang Pasar Limbangan (P3L), warga Sindang Anom, dan PT Elva Primandiri selaku pengembang batal terlaksana karena tidak hadirnya dua unsur.

Dua unsur yang tidak hadir dalam pertemuan tersebut adalah P3L dan warga Sindang Anom. Ketidakdatangan mereka karena tidak adanya surat undangan yang diterima dari pihak pemerintah daerah kabupaten Garut selaku fasilitator.

Asisten Daerah Bidang Ekonomi Pemda Garut, Yatie Rohayatie, mengatakan jika pertemuan yang seharunya dilakukan kemarin merupakan keinginan dari P3L dan warga Sindang Anom pada saat melakukan audiensi dengan Bupati dan unsur dinas lainnya. Melihat hal tersebut dengan waktu yang sudah ditentukan maka pihaknya tidak melayangkan surat undangan kepada P3L dan warga Sindang Anom.

“Namun rupanya tidak seperti itu, dan kita akan mengagendakan kembali pertemuan ini, waktunya minggu depan. Nanti akan dikomunikasikan kembali dengan pemerintah setelah dengan warga setempat dan P3L,” ujarnya.

Direktur PT Elva Primandiri, Elva Waniza mengatakan dengan batalnya pertemuan kemarin ia diberi arahan oleh Bupati agar bersilaturahmi dengan warga dan tokoh masyarakat Sindang Anom. Ia mengaku akan segera melaksanakan hal tersebut dan menerima masukan yang diberikan oleh Bupati Garut Rudy Gunawan.

“Lapangan Pasopati tidak ada masalah dengan kami karena kami akrab dengan lingkungan di sana. Tapi kami menyadari kekurangan dimana belum bersilaturahmi intens denga warga Sindang Anom dan kami akan segera bersilaturahmi dan menjelaskan apa yang bisa kami jelaskan terkait pasar ini,” ujarnya.

Terkait adanya ketakutan warga Sindang Anom berkurangnya kapasitas air karena pembuatan sumur bor, Elva menyebutkan jika sumur bor yang dibuat dangkal, berkapasitas kecil, namun menggunakan teknologi tinggi. Yang dibesarkan di pasar bukanlah sumurnya, namun bak penampungannya sehingga bisa meng-cover pedagang dan pembeli di Pasar Limbangan.

“Kalau untuk pembuatan sumur artesis harus ada izin dari provinsi, namun yang jelas kami sangat memperhatikan lingkungan sekitar dalam proses pembuatan dan keberlangsungan pasar ke depannya. Untuk masalah sampah, polusi, getaran dan lainnya kami sudah berusaha menggunakan teknologi yang bisa kami siapkan untuk mengurangi dampak yang ditakutkan,” katanya.

Hal lainnya terkait perizinan, sebutnya, masalah Izin Mendirikan Bangunan (IMB) tinggal menunggu analisisi dampak lingkungan lalu lintas (Amdal Lalin) sebagaimana tertera dalam peraturan kementerian perhubungan nomor 75 tahun 2015. Saat ini sudah ada tim di lapangan tengah menganalisis tentang rekayasa lalu lintas yang bisa dilakukan di jalur yang melewati Pasar Limbangan.

“IMB lama kita sudah ada, tapi di sana hanya dilengkapi UPL dan UKL sehingga di PTUN IMB milik kita terkoreksi karena harus ada Amdal, termasuk amdal lalin. Untuk Amdal Lingkungan sudah selesai dan tinggal menunggu Amdal Lalin saja, dimana kita mengikuti peraturan tahun terbaru dari kementerian,” tambahnya.(Munady/A-147)***
Bagikan: