Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sebagian berawan, 20.1 ° C

Kota Depok Tekan Kasus Balita Bergizi Buruk

Muhammad Ashari
DEPOK, (PRLM).- Kota Depok belum lepas dari masalah balita bergizi buruk. Upaya menekan kasus balita bergizi buruk selalu tidak memenuhi target selama tiga tahun terakhir.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Depok Ety Rohayati mengatakan, target kasus gizi balita buruk sebanyak 0,5% dari jumlah balita yang ada. Namun demikian, selama tiga tahun terakhir (2012-2014), jumlah kasus balita bergizi buruk masih di atas 0,5%.

Dia menyebutkan, selama tiga tahun terakhir pada dasarnya kasus balita gizi buruk menurun, namun masih tidak memenuhi target. Pada tahun 2012, kasus gizi buruk sebanyak 0,9% atau 120 kasus dari jumlah balita sebanyak 127.260 jiwa. Pada tahun 2013, kasus gizi buruk sebanyak 0,8% atau 87 kasus dari jumlah balita 115.745 jiwa dan tahun 2014, kasus gizi buruk sebanyak 0,6% atau 75 kasus dari jumlah balita 127.101 jiwa.

Menurutnya, data gizi buruk itu didapatkan dari puskesmas yang tersebar di 11 kecamatan Kota Depok. Selain itu, pemantauan juga dilakukan dengan program penimbangan balita yang diselenggarakan setiap bulan.

"Di Depok kasus gizi buruk tidak murni karena kemiskinan seperti halnya di Garut. Terkadang, balita dari keluarga yang tingkat ekonominya menengah ada saja yang terkena kasus balita gizi buruk," tuturnya, Kamis (30/7/2015).

Dia mengatakan, ada fenomena kasus gizi buruk di Depok terjadi karena penyakit peserta. Menurutnya, ada pasien mengalami kasus gizi buruk karena menderita tuberkulosis. Penanganan penyakit tuberkulosis itu tidak disertai pengaturan asupan gizi sehingga berdampak kepada munculnya kasus gizi buruk.

"Persoalan gizi buruk cukup kompleks. Permasalahannya turut dipengaruhi juga kondisi kota yang padat, serta mobilitas penduduk yang relatif cepat," tuturnya.

Dia menyebutkan, berdasarkan data sementara kasus gizi buruk pada tahun ini, terdapat 23 kasus. 11 kasus di antaranya merupakan kasus gizi buruk murni dan 12 kasus lainnya terjadi dengan penyakit peserta. "Dalam kasus gizi buruk dengan penyakit peserta, seperti meningitis," tuturnya.

Dia mengatakan, upaya untuk menekan kasus gizi buruk adalah dengan membuka unit pemulihan gizi di 5 puskesmas. Kelima puskesmas itu yakni Puskesmas Tapos, Cimanggis, Pancoran Mas, Sawangan dan Sukmajaya. Dari kelima puskesmas itu, Puskesmas Sukmajaya merupakan satu-satunya yang memiliki fasilitas rawat inap.

Dia menambahkan, pemulihan gizi menjadi penting untuk mencegah kasus balita kurang gizi meningkat menjadi balita bergizi buruk. Pasalnya, jumlah balita tergolong kurang gizi jumlahnya mencapai ribuan. Dia menyebutkan, pada tahun 2012 terdapat kasus balita kurang gizi sebanyak 5.563 kasus, pada tahun 2013 sebanyak 5.051 kasus dan pada tahun 2014 sebanyak 4.277 kasus. (Muhammad Ashari/A-147)***
Bagikan: