Pikiran Rakyat
USD Jual 14.130,00 Beli 13.830,00 | Sebagian cerah, 27.1 ° C

Kualitas Pembangunan Tol Dievaluasi

Windiyati Retno Sumardiyani
PEKERJA mengevakuasi reruntuhan balok penyangga cetakan pier head 109 proyek Tol Bogor Riang Road yang ambruk saat proses pengecoran, Rabu, 10 Juli 2019. Dua pekerja dilaporkan terluka ringan dalam kejadian tersebut.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
PEKERJA mengevakuasi reruntuhan balok penyangga cetakan pier head 109 proyek Tol Bogor Riang Road yang ambruk saat proses pengecoran, Rabu, 10 Juli 2019. Dua pekerja dilaporkan terluka ringan dalam kejadian tersebut.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR

BOGOR,(PR).- Runtuhnya material cor  blok penyangga (pier head) kolom 109  Tol Bogor  Ring Road (BORR) di Kota Bogor diharapkan tidak terulang kembali. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Danang Parikesit menyebutkan, BPTJ sedang mengevaluasi seluruh kualitas pembangunan tol sebelum kembali melanjutkan pengerjaan proyek tersebut. 

“Kualitas kontruksi semuanya akan kita evaluasi,  termasuk keamanan pembangunan   bagi pengguna jalan tol maupun secara umum,” ujar Danang Parikesit, Jumat 12 Juli 2019.

Dalam melakukan evaluasi, Danang mendorong  pemantau mutu independen untuk turut mengawasi pembangunan tol senilai Rp 1,6 triliun tersebut.

Danang juga meminta dua lembaga yakni Komite Keselamatan Kontruksi, dan Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) untuk mengevaluasi total kinerja kontraktor pembangunan proyek tol tersebut. Sebelum rekomendasi diberikan, proyek tersebut  tidak boleh dilanjutkan.

“Sebenarnya bukan domain kami untuk melakukan investigasi, karena permasalahan ini  ranahnya Bina Marga KemenPUPR, mudah-mudahan penyebabnya segera diketahui,” kata Danang.

Sanksi kepada kontraktor dan insinyur

Danang menyebutkan, atas kejadian tersebut, Kementerian PUPR memastikan akan memberi sanksi kepada kontraktor  dalam hal ini PT PP.  Sanksi tidak hanya bersifat insitusi, namun juga akan dikenakan kepada insyinyur yang menangani proyek tersebut.

“Kalau  peristiwa itu terjadi akibat kegagalan kontruksi sudah pasti semua yang terlibat akan kena sanksi. Sanksinya bisa sampai pencabutan izin profesi untuk insyinyur jika terbukti tidak menyusun metodologi pembangunan dengan benar,” ucap Danang.

Sementara jika ditemukan kelalaian dalam kontruksi pembangunan pada Tol BORR,  sanksi yang diberikan kepada pihak kontraktor bisa berupa pemberian surat peringatan hingga pencabutan pengusahaan jalan tol.  Dalam hal ini,  PT Jasa Marga (Persero) melalui anak usahanya PT Marga Sarana Jabar juga terancam terkena sanksi.

“Untuk sanksi kita tidak ingin terburu-buru, kita tunggu saja hasil investigasi dari K2 dan KKJTJ,” ucap  Danang.

Sebelumnya, Direktur Utama PT MSJ Hendro Atmojo menyatakan siap memberi sanksi  bahkan pemutusan  kontrak jika PT PP terbukti lalai dalam membangun kontruksi. Hasil rekomendasi Komisi  Keamanan Jembatan dan  Terowongan Jalan atas  penyebab runtuhnya tiang penyangga tersebut akan menjadi penentu kelanjutan pembangunan proyek senilai Rp 1,6 triliun tersebut.

Dengan kondisi tersebut, Hendro tidak bisa memastikan apakah proyek Tol BORR seksi 3A akan berlangsung tepat waktu atau tidak. Jika memang bisa dilanjutkan kembali dalam satu atau dua pekan ke depan, Hendro menyebutkan pembangunan masih dapat diselesaikan akhir tahun ini.

“Cuma takutnya berlarut-larut di internal kami. Intinya tetap kita harus memberikan ketegasan sanksi kepada pelaksana proyek dan konsultan pengawas. Kalau masalah nanti diputus kontrak dan harus lelang ulang, itu biar internal kami yang membahas,” ucap Hendro.

Terkait hasil rekomendasi dari KKTJT, Humas PT MSJ Fery Siregar menyebutkan PT MSJ juga masih menunggu hasil tersebut. Sembari menunggu hasil rekomendasi, PT PP masih berkewajiban membongkar sisi  pier head yang tidak runtuh.

Hal tersebut berimbas pada padatnya lalu lintas di kawasan pear head kolom 109. Pasalnya, Dinas Perhubungan Kota Bogor masih memberlakukan sistem buka tutup selama proses pembersihan material berlangsung.***

Bagikan: