Dari Los Angeles hingga Chicago, Demostran Gaungkan Kata-kata Terakhir George Floyd

- 31 Mei 2020, 19:12 WIB
Demostran berujuk rasa di depan Gedung Putih pada Sabtu 30 Mei 2020 atas kematian George Floyd.*(Photo by Eric BARADAT / AFP) /ERIC BARADAT

PIKIRAN RAKYAT - Kerusuhan yang terjadi di beberapa kota besar di Amerika Serikat (AS) menyebabkan pemerintah memberlakukan jam malam.

Kerusuhan tersebut bermula pada saat seorang pria kulit hitam, George Floyd, tewas di tangan seorang polisi Minneapolis yang menyebabkan kemarahan sipil.

Dari Los Angeles hingga Chicago, protes dengan ditandai teriakan 'Aku tidak bisa bernafas' menggema.

Baca Juga: Unit Jibom Diturunkan, Mortir Diduga Sisa Perang Dunia II Ditemukan

Kata tersebut disuarakan atas dasar seruan terakhir dari George Floyd yang sekarat.

Dilasir Pikiran-Rakyat.com dari Global Times, aktivis hak-hak sipil mengatakan, video penangkapan Floyd pada 25 Mei 2020 yang terekam oleh telepon seluler tersebut menontonkan Flyod berulang kali mengeluh, 'Tolong, saya tidak bisa bernafas' memicu kemarahan yang telah membara di Minneapolis atas biasnya rasia persisten dalam sistem peradilan pidana AS.

Selain itu, alasan kemarahan demostran pun terjadi atas ketidakpuasaan terhadap pembataian ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi virus corona menyeruak.

Baca Juga: Akibat Virus Corona, Kanada Promosikan Liburan di Rumah saat Penguncian Wilayah

Kerusuhan tersebut tidak hanya melukai polisi, namun sejumlah toko dijarah dan fasilitas umum dirusak.

Halaman:

Editor: Mitha Paradilla Rayadi

Sumber: Global Times


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X