Tak Hanya India, Negara Tetangganya Juga Intimidasi Muslim dengan Tuduhan 'Penyebar Super' Covid-19

- 21 Mei 2020, 15:04 WIB
Ilustrasi bendera India.
Ilustrasi bendera India. /Pexels/Still Pixels

Media India juga berkontribusi pada stigmatisasi umat Islam selama pandemi. Ketika para politisi melanjutkan upaya mereka untuk menyalahkan penyebaran cepat virus Covid-19 di negara itu pada Muslim, organisasi media pro-pemerintah menjalankan pertunjukan dan menerbitkan laporan yang mendukung tuduhan yang tidak berdasar ini.

Pemerintah India memperlakukan pandemi virus corona sebagai kesempatan untuk menggandakan kebijakan Islamofoba yang ada. Sejak dimulainya darurat kesehatan masyarakat ini, ia tidak hanya menggunakan Muslim sebagai kambing hitam untuk mengalihkan perhatian dari kekurangan menangani virus corona, tetapi juga berhasil memperdalam prasangka mayoritas Hindu yang ada tentang komunitas ini.

Baca Juga: Beredar Isu 40 Orang Terpapar Virus Corona di Pasar Antri Kota Cimahi, Cek Faktanya

Dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Aljazeera, di negara tetangga, Sri Lanka, pemerintah memilih untuk menggunakan pandemi sebagai alasan untuk menstigmatisasi umat Islam dan menjadi calo Islamofobia.

Sri Lanka adalah negara kepulauan dengan warisan multireligius dan multi-etnis yang dinamis. Tapi propaganda Islamofobia terus-menerus disebarkan oleh media dan politisi selama bertahun-tahun.

Ditambah dengan serangan oleh kelompok-kelompok Muslim radikal di Sri Lanka dan pengarusutamaan Islamofobia di seluruh dunia, menyebabkan marginalisasi Muslim di negara itu. Muslim menghadapi gelombang kekerasan di tangan kaum nasionalis. Pemerintah dituduh tidak berbuat cukup untuk melindungi komunitas minoritas.

Baca Juga: Lewat GoPlay, Horror Thriller Paling Mencekam ‘Perempuan Tanah Jahanam’ Makin Dekat #diRumahAja

Jadi, tidak mengherankan, ketika Covid-19 mencapai Sri Lanka, beberapa organisasi media dan nasionalis terkemuka yang dekat dengan pemerintah saat ini dengan cepat menyalahkan Muslim, yang hampir 10 persen dari populasi, untuk penyebaran virus.

Sama seperti di India, praktik keagamaan Muslim dipilih sebagai "peristiwa penyebar super" dan warga Sri Lanka yang mayoritas beragama Buddha diperingatkan untuk tidak membeli barang hingga makanan dari pedagang Muslim.***

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X