Etnis Tionghoa di Italia Alami Diskriminasi Parah, PHK dan Siksaan hingga Disebut 'Virus Tiongkok'

- 26 Maret 2020, 19:32 WIB
CITRA satelit menunjukkan penurunan tingkat polusi udara di Italia setelah lockdown akibat virus corona diberlakukan.
CITRA satelit menunjukkan penurunan tingkat polusi udara di Italia setelah lockdown akibat virus corona diberlakukan. /AFP

"Mereka beranggapan bahwa kami adalah sumber virusnya. Mereka berkata seperti itu hanya karena kami lahir di Tiongkok," kata Chen seperti dikutip The Guardian.

Seperti yang diketahui, etnis Tionghoa merupakan komunitas etnis terbesar ketiga yang tinggal di negara tersebut, jumlahnya kurang lebih 310.000 orang. Sebanyak 16% dari jumlah tersebut tinggal di provinsi Prato dan Florence dan bekerja di industri tekstil.

Baca Juga: Jumlah ODP dan PDP Covid-19 di Ciamis Melonjak, Diduga Warga yang Mudik dari Jakarta dan Bandung

Berdasarkan data, sekitar 30.000 warga negara Tiongkok bekerja di distrik tekstil Prato. Mayoritas tidak memiliki kontrak kerja resmi. Hal itu membuat mobilitas mereka terbatas dan tidak memiliki akses terhadap dukungan sosial dari pemerintah jika mereka diberhentikan.

Flavio Hu, salah satu perwakilan dari Asosiasi Pengusaha Muda Tiongkok, khawatir akan dampak lockdown yang diterapkan di seluruh wilayah Italia. Ia berpendapat bahwa ini mungkin akan berdampak buruk pada industri tekstil di kawasan itu.

Sebuah laporan dari Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan PDB Italia akan turun 0,6% pada tahun 2020. Sementara utang rakyat akan naik menjadi 137% dari PDB.***

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X