Selasa, 31 Maret 2020

Olimpiade Tokyo 2020 Ditunda, Jepang Dililit Masalah Keuangan Pelik

- 25 Maret 2020, 08:09 WIB
Yoshiro Mori, Presiden Komite Penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 saat menghadiri konferensi pers setelah pertemuan jarak jauh dengan Presiden IOC Thomas Bach guna penundaan Olimpiade Tokyo pada 24 Maret 2020. /REUTERS

PIKIRAN RAKYAT – Olimpiade Tokyo 2020 ditunda, hingga 2021, akibat pandemi global Covid-19.

Penundaan Olimpiade menyisakan permasalahan keuangan yang cukup pelik.

Desember tahun lalu panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo menyebut angka 1,35 triliun yen atau Rp178,12 triliun untuk mempersiapkan Olimpiade ini.

Baca Juga: UN 2020 Ditiadakan, Simak Syarat dan Ketentuan Kelulusan Sekolah

Angka itu belum termasuk tiga miliar yen (Rp395 miliar) untuk pemindahan venue marathon dan jalan cepat dari Tokyo ke Sapporo yang ada di bagian utara Jepang, demi menghindari cuaca terik saat musim panas.

Tak hanya Jepang yang dalam bayang-bayang rugi besar, mitra-mitra bisnis IOC juga terbanting, antara lain asuransi.

Mengutip Reuters, perusahaan-perusahaan asuransi harus menanggung 2 miliar dolar AS (Rp28,47 triliun) asuransi Olimpiade 2020, termasuk hak siar televisi dan sponsor, ditambah 600 juta dolar AS (Rp8,5 triliun) untuk akomodasi.

Baca Juga: Ramalan Zodiak 25 Maret 2020, Virgo Merasakan Beban hingga Pisces Kecewa dengan Keadaan

Itu belum para pemegang hak siar televisi yang sudah kadung mengikat kontrak jangka panjang bernilai gila-gilaan.

Sebut saja. NBC Universal yang sudah menjual lebih dari 1 miliar dolar (14,23 triliun) dalam bentuk komitmen iklan yang bakal disiarkan di AS.

Induk perusahaan ini, Comcast, setuju membayar 4,38 miliar dolar AS (Rp62,36 triliun) untuk hak media AS bagi empat Olimpiade dari 2014 sampai 2020.

Discovery Communications, induk saluran televisi Eurosport, sudah sepakat mengeluarkan 1,3 miliar euro (Rp18,5 triliun) untuk layar Olimpiade di seluruh Eropa dari 2018 sampai 2024.

Baca Juga: Tips Ubah Speaker Lama Menjadi Bluetooth, Gunakan Audio Receiver

Pertaruhan

Jadi, jelas ratusan trilunan Rupiah telah dipertaruhkan dan ini sungguh memusingkan rezim Shinzo Abe yang sudah menganggap Olimpiade ini proyek nasional berspektrum luas dan multidimensional, tak cuma olahraga sampai-sampai mati-matian membunuh skenario pembatalan.

Jepang menganggap Olimpiade ini simbol pemulihan dan titik terbaru bangsa ini guna melesat ke level lebih tinggi lagi.

"Olimpiade Pemulihan", begitu Jepang menyebut Olimpiade ini, adalah perlambang kebangkitan Jepang setelah diluluhlantakkan gempa bumi, tsunami dan bencana nuklir 2011 yang menewaskan 20.000 orang dan ribuan lainnya hilang.

loading...

Baca Juga: Meski Nihil Kasus Positif Covid-19, Ciamis Batalkan Pilkades Serentak di 143 Desa

Upaya mati-matian Jepang ini terlihat manakala meminta Yunani dan IOC tetap menggelar upacara penyalaan api Olimpiade di kota kuno Olympia yang menjadi asal Olimpiade.

Jepang bahkan meminta api Olimpiade itu tidak didaratkan di Tokyo atau kota-kota besar yang menjadi simbol kaadiluhungan bangsa ini, melainkan memintanya dikirim ke Prefektur Miyagi, salah satu daerah terparah ditimpa gempa-tsunami 2011.

Dari sana api itu mulai diarak di Fukushima pada 23 Maret, di tempat terjadi bencana nuklir akibat gempa-tsunami 2011 yang membuat Jepang terpukul dahsyat sekalipun menujukkan diri tabah.

Baca Juga: Hari Raya Nyepi 2020, 1.152 Narapidana Hindu Terima Remisi Khusus

Oleh karena itu, sebagaimana hampir semua Olimpiade, Tokyo 2020 adalah bukan semata pencapaian peradaban, tetapi juga keparipurnaan Jepang yang berusaha dipamerkan Abe kepada dunia dan dibanggakan kepada rakyatnya.

Memang penundaan, membuat impian-impian itu tetapi bersemayam. Cuma mencapainya lagi, termasuk memburu insentif-insentif miliaran dolar AS dari sektor pariwisata, menjadi lebih rumit lagi.

Itu belum masalah bentrok dengan jadwal-jadwal kompetisi dan olahraga global.

Baca Juga: Ikut Membendung Penularan Virus Corona, Ini Kebijakan OJK terhadap BEI

"Olimpiade bergerak teratur dalam siklus empat tahunan. Jika Anda bangun dan matahari ada di tempat yang sekali berbeda, maka pasti ada konsekuensinya," tulis laman Inside the Games.

Pikir saja, jadwal olahraga pada 2021 sungguh sangat padat. Ini persoalan pelik bagi IOC dan federasi-federasi olahraga.

Bagi Jepang, Olimpiade yang bentrok dengan turnamen lain adalah bencana besar karena sama artinya dengan miliaran pasang mata manusia, dan juga sponsor atau iklan, menjadi tidak lagi fokus kepada Olimpiade.

Tengah tahun depan nanti turnamen-turnamen besar seperti kejuaraan-kejuaraan dunia renang dan atletik, sudah siap memperumit jadwal Olimpiade. Belum lagi jadwal-jadwal kompetisi lain seperti Piala Eropa atau Copa America yang juga dimundurkan ke 2021, dan banyak lagi.***


Editor: Gita Pratiwi

Sumber: Antara, Reuters, AFP

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X