Sabtu, 30 Mei 2020

Paskah dan Berbagai Acara Keagamaan Dunia Dibatalkan Demi Cegah Corona

- 15 Maret 2020, 13:52 WIB
ALUN-alun Santo Petrus Basilika di Vatikan, Roma, sedianya menjadi tempat berkumpul umat Katolik sedunia pada Hari Paskah. Namun peringatan itu telah dibatalkan demi menangkal penyebaran corona.* /PIXABAY

PIKIRAN RAKYAT – Para pemeluk agama besar di dunia membatasi pertemuan besar dan kontak fisik untuk menghentikan penyebaran Covid-19

Beberapa acara agama penting, seperti Paskah, dan salat Jumat telah dibatalkan dan dibatasi dalam beberapa minggu ke depan untuk mennyetop penyebaran virus corona .

Dilansir The  Guardian, Minggu, 15 Maret 2020, bulan depan, sebagian besar agama besar di dunia mengadakan acara yang melibatkan banyak orang.

Baca Juga: Seluruh Sekolah di Kota Cimahi Diliburkan, Ajay: Jangan Ajak Anak Liburan, Tidak Selesaikan Masalah

Paskah dirayakan mulai tanggal 8-12 April; Rama Navami, sebuah festival Hindu yang penting, diadakan pada 2 April; sedangkan festival Sikh Vaisakhi diadakan beberapa hari setelahnya. Selanjutnya, ibadah-ibadah berjemaah bulan suci Ramadan diperkirakan mulai sekitar 23 April.

Paskah yang dirayakan di Basilika, Roma, yang diikuti oleh Paus Urbi et Orbi di Lapangan Santo Petrus, biasanya dihadiri oleh puluhan ribu orang dari seluruh dunia.

Namun, setelah alun-alun ditutup oleh massa dan polisi Italia, perayaan Paskah sekarang diragukan akan digelar seperti tahun-tahun sebelumnya.

 Baca Juga: Tak Hirau Isu Corona di Jawa Barat, Ribuan Orang Padati Safari Bupati Pangandaran di Lapang Cimanggu Cikalong

Vatikan menyiarkan langsung misa harian pukul 7 pagi dan Angelus pada hari Minggu. Terlepas dari pembatasan pergerakan di Italia, Paus Fransiskus - yang telah dites negatif terhadap virus - telah mendesak para imam Katolik untuk "memiliki keberanian untuk pergi keluar dan mengunjungi orang sakit ... serta untuk menemani staf medis dan sukarelawan dalam pekerjaan yang mereka lakukan". 

Dilansir The Guardian, sebagian besar gereja di seluruh dunia telah menyarankan jemaat untuk tidak berjabat tangan sebagai "tanda perdamaian". Selain itu, mereka melarang jemaatnya minum dari satu cangkir yang sama. Akibatnya, banyak orang memutuskan untuk tinggal di rumah untuk mengurangi kontak fisik dengan orang lain.

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi

Sumber: The Guardian


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X