Sabtu, 6 Juni 2020

Raja Kedai Kopi Starbucks Diduga Lakukan Eksploitasi Anak, Ada yang Masih Berusia 8 Tahun dan Diupah Murah

- 9 Maret 2020, 19:21 WIB
PELANGGAN di Starbucks di Yuyuan Bazaar di Shanghai pada 24 Februari 2018.* /BLOOMBERG

PIKIRAN RAKYAT - Raja kedai kopi terbesar, Starbucks, terjerat dalam kasus eksploitasi pekerja anak. Kejadian ini terungkap setelah adanya penyelidikan bahwa anak-anak di bawah 13 tahun bekerja di pertanian di Guatemala yang memasok biji kopi pada mereka.

Seperti dilansir The Guardian pekan lalu, Channel 4's Dispatches mendokumentasikan anak-anak bekerja selama 40 jam dalam seminggu dalam kondisi yang sangat melelahkan. Mereka bekerja untuk mengambil biji kopi dengan upah harian sedikit lebih banyak daripada harga latte.

Biji kopi juga dipasok ke Nespresso, yang dimiliki oleh Nestlé. Pekan lalu, aktor George Clooney, wajah iklan Nespresso, memuji penyelidikan dan mengatakan ia sedih dengan temuannya.

Baca Juga: Purwakarta Butuh Terminal Baru untuk Atasi Angkutan Umum yang Semrawut 

Tim Dispatches mengatakan beberapa anak, yang bekerja sekitar delapan jam sehari, enam hari seminggu, tampak berumur delapan tahun. Mereka dibayar tergantung pada berat biji kopi yang mereka pilih, dengan karung yang beratnya mencapai 45kg. Biasanya, seorang anak akan berpenghasilan kurang dari £5 sehari, meskipun kadang-kadang bisa serendah 31 p  per jam.

Selama penyelidikan, Dispatches mengunjungi tujuh pertanian yang terhubung dengan Nespresso dan lima yang terhubung dengan Starbucks. Pekerja anak ditemukan di semua pertanian.

Seorang pengacara hak asasi manusia yang melihat beberapa bukti program tersebut menyarankan kedua perusahaan melanggar peraturan perburuhan internasional yang ditetapkan oleh Organisasi Perburuhan Internasional PBB.

Baca Juga: Diserang Ribuan Ulat Bulu, Warga Perumahan Elite di Bekasi Alami Gatal-gatal

"Peraturan tak tertulis itu sangat jelas menunjukan bahwa mereka tidak peduli dengan pendidikan anak-anak tersebut. Jika anak-anak bekerja selama 40 jam dalam seminggu, tidak mungkin mereka mendapatkan pendidikan yang layak,” kata Oliver Holland dari pengacara Leigh Day.

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X