Selasa, 25 Februari 2020

Human in Oil Diharapkan Bisa Lawan Opini Sesat Soal Sawit

- 25 November 2019, 09:06 WIB
PELUNCURAN film "Human in Oil" pada Docsfair International Film Festival di Amsterdam, Belanda, Jumat 22 November 2019.* /DOK. ANTARA

AMSTERDAM , (PR).- Film dokumenter berjudul Human in Oil yang diluncurkan rumah produksi asal Belanda, Docsfair, diharapkan dapat memberikan perspektif humanis tentang produk kelapa sawit sebagai alternatif dari opini menyesatkan yang dibentuk oleh berbagai pihak di Uni Eropa (EU), terutama yang berhubungan dengan kerusakan lingkungan hidup.

Film tersebut mengangkat bagaimana kelapa sawit mengubah kehidupan para petani kecil (smallholders) di Jambi, dan sudut pandang mereka apabila negara-negara EU melarang impor kelapa sawit.

Film yang diluncurkan pada Docsfair International Film Festival di Amsterdam, Belanda, Jumat 22 November 2019 itu juga menunjukkan bagaimana pengelolaan industri kelapa sawit di Indonesia yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan sesuai standar RSPO/ISPO.

Dalam sambutannya pada peluncuran film tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri RI Mahendra Siregar melalui keterangan tertulisnya, Sabtu, mengatakan bahwa belum adanya pemahaman bersama yang baik merupakan tantangan utama dalam isu kelapa sawit secara global.

Baca Juga: Masa Depan Karier Musisi Muda Ditentukan Diferensiasi Karya

"Melalui film ini diharapkan masyarakat di Belanda dan Eropa dapat mempelajari, meresapi dan menginterpretasikan isu ini dari sudut pandang yang berbeda dengan ideologi, opini, dan emosi yang sudah terbentuk di masyarakatnya mengenai kelapa sawit," kata Mahendra seperti dikutip Antara.

"Kita tidak bisa mengubah persepsi dalam satu malam, namun film ini merupakan langkah awal untuk membangun global understanding secara mendalam," ia menambahkan.

Pembuatan film Human in Oil karya sutradara Belgin Inal ini diinisiasi oleh Andhika Rutten, seorang diaspora Indonesia di Belanda. Andhika terinspirasi dari pengalamannya mengikuti kegiatan Regular Oil Palm Course (ROPC) yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri RI pada 2018.

Program tahunan yang diinisiasi sejak 2017 tersebut bertujuan memberikan persepsi yang benar mengenai industri minyak sawit berkelanjutan Indonesia.

Halaman:

Editor: Ari Nursanti

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X