[Laporan Khusus]: Antara Plastik di Perut Ikan dan Kang Pisman

- 31 Oktober 2019, 13:30 WIB
SEEKOR burung kuntul (Bubulcus ibis) terbang dengan kaki tersangkut sampah plastik di kawasan konservasi Kampung Blekok, Situbondo, Jawa Timur, Minggu, 24 Maret 2019. Penemuan peneliti yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences, menunjukkan 99 persen dari semua spesies burung laut cenderung menelan plastik pada 2050 nanti. */ANTARA

HASIL riset para peneliti Amerika Serikat yang dipublikasikan pada 2015 lalu itu memang demikian mengguncang. Mereka menyebut 8 juta ton sampah plastik membanjiri laut setiap tahunnya. Indonesia menjadi negara penyumbang terbesar kedua setelah Tiongkok.

Total produksi sampah plastik di Indonesia ditaksir sekitar 3,2 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, 1,29 juta ton di antaranya hanyut ke laut. Angka-angka yang muncul dalam riset yang dipimpin oleh Jenna Jambeck dari Universitas Georgia ini diperoleh dari penduduk pesisir saja. Belum lagi warga kota ikut diperhitungkan.

Selain Tiongkok dan Indonesia, negara-negara Asia tampil di daftar 10 besar pencemar laut. Berturut-turut ada Filipina, Vietnam, Sri Langka, Thailand, Malaysia, dan Bangladesh. Dua negara lain dalam daftar itu ada di Afrika, yakni Mesir dan Nigeria. Amerika Serikat, sang negara adi daya, ada di peringkat ke-20.

Lewat studi yang terbit di Science Magazine tersebut, para peneliti mengingatkan, tanpa tindakan drastis, akumulasi jumlah sampah plastik di laut pada 2025 bakal menumpuk hingga 155 juta ton. Jumlah ini, ironisnya, diperkirakan lebih banyak dari jumlah ikan. Sifat plastik yang sulit terurai memicu permasalahan serius karena hampir mustahil membersihkannya dari dasar lautan sedalam ratusan atau bahkan ribuan meter.

Kabar buruk yang dibawa riset ini semakin mengguncang kesadaran masyarakat ketika bermunculan foto atau video tentang dampak buruk sampah plastik di laut. Seorang peselancar yang melaju dalam gulungan ombak penuh sampah plastik. Seekor kuda laut yang menjepit tongkat pembersih telinga. Seekor kura-kura yang terperangkap dalam kantong keresek. Seekor kepiting yang terjebak dalam gelas plastik. Dan tentu saja, ikan-ikan yang ditemukan terkapar mati di pantai dengan sampah plastik di
perutnya.

Direktur Eksekutif Aliansi Global untuk Pengganti Insinerator (GAIA) Asia-Pasifik Froilan Grate mengamini bahwa sampah plastik merupakan permasalahan serius yang mulai mengancam kehidupan planet bumi. Namun, ia menyebut hasil riset yang menempatkan negara-negara asia sebagai pencemar utama laut terlalu bias. Selain sumber data yang patut dipertanyakan, potret besar masalah sampah global yang sebenarnya justru tidak muncul.

Menurut Froilan, negara-negara berkembang di Asia relatif mudah dilabeli kotor dan dicap sebagai sumber masalah. Namun, akar masalah sampah plastik global justru ada di Amerika Utara dan daratan Eropa yang disesaki dengan negara-negara maju. Sebagian besar sampah plastik yang ditemukan di pantai dan laut diproduksi oleh perusahaan-perusahaan multinasional yang berkantor pusat di kedua benua.

Break Free From Plasctic, gabungan lembaga swadaya lintasnegara, melakukan audit merek global pada 2018. Sebanyak 10 ribu relawan dilibatkan dalam 239 aksi pungut sampah di 42 negara di enam benua. Mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 187.851 buah sampah plastik dalam berbagai bentuk.

Menjaga transparansi dan keterlibatan warga, metodologi dan piranti audit dapat diakses secara daring. Di Indonesia, dilakukan lima kali aksi pungut sampah.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X