Minggu, 23 Februari 2020

[Laporan Khusus]: Menengok Inisiatif-inisiatif Nol Sampah dari Asia

- 30 Oktober 2019, 13:29 WIB
Pusat Daur Ulang dan Edukasi Masyarakat Mulia Buddha Tzu Chi. Penang, Malaysia.*/TRI JOKO HER RIADI/PR

DI kantornya di Jalan Masjid Negeri, Asosiasi Konsumen Penang (CAP) menyediakan lahan yang cukup luas untuk berkebun. Bermacam jenis sayur tumbuh subur di sana berkat kompos yang diolah secara telaten. Kebun inilah model yang hendak dilipatgandakan CAP di beragam komunitas dan institusi pendidikan di Penang.

Kompleks kantor CAP yang hijau menceritakan dengan sendirinya seberapa kuat lembaga swadaya tersebut berkomitmen terhadap isu lingkungan. Seluruh sampah organik, baik daun kering maupun sisa sayur dan makanan, dikembalikan ke tanah. Untuk warga dan komunitas yang datang, dibagikan pengetahuan dan bibit tanaman.

Kepada puluhan jurnalis dan pegiat lingkungan yang berkunjung, Minggu, 13 Oktober 2019 siang, Saraswathi Odian, salah satu staf CAP, menceritakan bagaimana mereka dalam beberapa tahun terakhir terus belajar tentang pemilahan sampah sejak dari sumber. Sebagian dari mereka pergi ke Filipina, yang lain ke India. Di kedua negara, para staf CAP mempelajari teknik dan sistem pemilahan sampah di berbagai jenjang.

“Secara rutin kami datang ke komunitas-komunitas dan sekolah-sekolah, membagikan pengalaman dan mengajak bekerja sama. Saat ini sudah ada 20 sekolah di Penang yang berkomitmen menerapkan pemilahan dan pengomposan,” kata Saraswathi.

Selain kebun dan wadah pengomposan, di kantor CAP bisa ditemui sebuah bangunan unik. Namanya Rumah Cacing. Di sinilah para staf CAP mengembang-biakkan cacing untuk dibagikan ke warga yang memerlukannya untuk memperbaiki kesuburan tanah mereka.

“Salah satu kunci pemilahan sampah adalah kerja bersama. Ada hubungan timbal-balik yang baik. Jika kita melakukannya sendiri-sendiri, semua akan terlihat terlalu berat,” ujar Saraswathi.

Tidak jauh dari kantor CAP, para relawan sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing di Pusat Daur Ulang dan Edukasi Masyarakat Mulia Buddha Tzu Chi. Ada yang memandu warga yang hendak menaruh sampah dari rumah mereka ke belasan karung dan kontainer yang tersedia. Yang lain memisahkan plastik dari kantong kemasan makanan ringan. Di sudut lainnya, seorang perempuan tua menekuni tumpukan koran bekas. Lembar-lembar koran yang rusak didaur ulang, sementara mereka yang masih
utuh dimanfaatkan lagi.

Keluarga-keluarga, seringkali bersama anak-anak mereka, silih-berganti datang ke Pusat Daur Ulang ini dengan membawa sampah dari rumah mereka. Di sini, mereka memilah sampah secara mandiri sesuai dengan kantong yang tersedia. Ada kantong untuk botol plastik, koran, hingga sampah sulit, seperti kaset bekas, komputer, dan piranti elektronik lainnya. Sejak dini, anak-anak dikenalkan dengan kebiasaan memilah seperti ini.

Dalam satu hari, Pusat Daur Ulang menerima rata-rata 3 ton sampah. Setelah dipilah, sampah diambil oleh perusahaan daur ulang. Dana yang diterima Yayasan digunakan sepenuhnya untuk kegiatan-kegiatan karitatif bagi warga.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X