Stress di Balik Kotak Bento

- 16 Oktober 2019, 21:09 WIB
ILUSTRASI.*/CANVA

SETIAP tahun, sekitar lima miliar kotak makan siang (bento) dibuat oleh para ibu di Jepang.

Dikenal dengan sebutan bento, kotak makanan ini biasanya berisi nasi, sayuran, daging, dan makanan lainnya. Baik anak-anak maupun orang dewasa biasa membawa bento ke sekolah atau tempat kerja. Faktanya, lebih dari 70% dari lima miliar bento dibuat untuk orang dewasa, karena terbilang lebih murah dan lebih sehat, dibandingkan makanan cepat saji.

Dilansir BBC, Rabu, 16 Oktober 2019, para ibu memiliki tanggung jawab besar untuk membuat bento yang menarik bagi anak-anak mereka. Namun, membuat bento setiap hari menjadi kegiatan yang mengundang stres dan tekanan, terutama jika sang ibu adalah pekerja.

Bento bukan hanya sekedar sisa makanan semalam yang dijadikan bekal. Bento menekankan presentasi makanan yang menarik, salah satunya dengan membuat chara-ben. Chara-ben adalah makanan yang dibentuk seperti karakter tertentu, misalnya hewan dan manusia. Sebenarnya, tidak ada aturan khusus dalam membuat chara-ben, tetapi kegiatan ini menunjukkan dedikasi ibu untuk membuat bento terbaik bagi anaknya.

“Kotak bento adalah ekspresi cinta seorang ibu untuk anaknya. Para ibu berkomitmen dengan waktu dan pikiran untuk menciptakan kotak makan siang yang sehat, inovatif, dan indah,” kata Barbara Holthus, wakil direktur Institut Jerman untuk Studi Jepang di Tokyo.

loading...

Simbol status

Kata "bento" pertama kali diperkenalkan pada Zaman Edo yang berlangsung sekitar tahun 1600 hingga 1867. Kotak bento dulu terbuat dari kotak yang dipernis dan didekorasi dengan indah. Orang-orang biasa membawanya ke teater dan acara rekreasi lainnya seperti piknik. Saat itu, bento menjadi simbol kekayaan dan status.

Di era modern ini, unsur estetika pada bento masih tetap ditekankan, meskipun mobilitas masyarakat Jepang semakin cepat dan tekanan dari lingkungan semakin tinggi.

Seorang ibu bernama Risako Kasahara sering mengunggah gambar kotak makan siang putrinya ke media sosial. “Awalnya sangat menegangkan,” katanya. "Tapi saya sudah belajar beberapa trik sebelumnya. Jika saya lupa menanak nasi, saya akan segera merebus mi atau pasta,”

"Prinsip saya adalah memasukkan lima warna, seperti merah, kuning, hijau, hitam dan putih,” jelas Risako kepada BBC.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X