Senin, 20 Januari 2020

Rasa Setia Kawan, Satu Gajah Tergelincir 10 Ekor Lainnya Ikut Mati

- 15 Oktober 2019, 09:11 WIB
MENURUT penelitian gajah memiliki rasa empati untuk saling menolong.*/ANTARA

SEPEKAN lalu 7 Oktober 2019, Thailand digemparkan dengan kematian 11 ekor gajah liar di dekat air terjun. Pada awalnya, para petugas menemukan enam ekor gajah yang mati. Dua hari kemudian, tubuh lima gajah lainnya ditemukan dekat hilir sungai.

Penjaga taman di Taman Nasional Khao Yai menduga bahwa gajah-gajah ini mati saat melakukan misi penyelamatan. Selama ini, gajah dikenal sebagai hewan yang memiliki rasa setia kawan. Ketika melintasi Haew Narok, air terjun setinggi 150 meter, seekor anak gajah tergelincir dan yang lainnya ikut tergelincir saat berusaha menyelamatkan anak gajah tersebut.

Kematian 11 ekor gajah ini memang tidak terlalu mengancam eksistensi spesies gajah di dunia. Namun, hal menarik yang disoroti oleh seluruh dunia adalah pengorbanan para gajah untuk menyelamatkan sesamanya.

Benarkah gajah merasakan empati dan mampu mempertaruhkan hidup mereka untuk anaknya? Dan apa makna dari kejadian ini bagi gajah yang selamat?

Dr. Joshua Plotnik dari Hunter College City University telah mempelajari gajah liar di Thailand selama lebih dari satu dekade. Ia mengatakan kepada BBC bahwa manusia tidak boleh berasumsi jika tidak ada saksi mata yang menyaksikan kejadian tersebut. Meskipun demikian, dia juga menambahkan, “Masuk akal sekali jika gajah menyelamatkan sesamanya sebisa mungkin jika berada dalam bahaya.”

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa gajah dapat mendeteksi bahaya dan mengkoordinasikan tindakan mereka untuk melakukan penyelamatan. Akan tetapi, Dr. Plotnik meragukan bahwa gajah-gajah ini sengaja terjun dari air terjun dalam kondisi yang membahayakan. Kemungkinan besar ini adalah murni kecelakaan.

Insting membantu

Seorang spesialis perilaku gajah dari University of Veterinary Medicine di Vienna bernama Dr. Rachel Dale membenarkan bahwa gajah memiliki insting untuk membantu gajah lainnya ketika dalam bahaya, “meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri”. Selain penolong, gajah juga merupakan hewan yang sangat pintar. Kemungkinan besar mereka telah memperkirakan risiko yang akan dihadapi sebelum terjun untuk menyelamatkan anak gajah tersebut.

Bhichet Noonto, pemimpin Proyek Koeksistenesi Manusia dan Gajah,mengatakan bahwa kondisi taman sangat mengkhawatirkan ketika insiden ini terjadi. Air terjun Haew Narok dikenal sangat berbahaya bagi gajah yang ingin melintas, terutama saat musim hujan datang.

Pada tahun 1992, delapan ekor gajah mati setelah jatuh dari air terjun yang sama. Saat itu, petugas taman menyaksikan langsung ketika induk gajah ikut melompat untuk menyelamatkan anaknya. Seekor sapi pun diduga jatuh dari tebing itu pada tahun 1987.

Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X