Jumat, 6 Desember 2019

I-Khanom, Bioskop Aman untuk Perempuan di Garis Perang

- 2 Oktober 2019, 23:53 WIB
SEORANG pembuat film dokumenter bernama Diana Saqeb Jamal berupaya untuk menghidupkan kembali budaya menonton film di Kabul. Ia membangun bioskop I-Khanom yang bertujuan untuk menyediakan tempat aman bagi perempuan dan keluarga yang ingin menonton film di Kabul, Afghanistan.*/AP

SEBAGIAN besar bioskop di Kabul hanya dibuka bagi penonton pria dan cenderung menayangkan film Bollywood dari Pakistan dan India. Bagi para pemuda Afganistan, menonton bioskop menjadi suatu kegiatan langka untuk megekspresikan kegembiraan di khalayak umum, seperti dengan sorak-sorai dan berdansa bersama.

Sementara itu, bagi para perempuan, bioskop menjadi tempat yang sangat ditakuti karena didominasi oleh penonton pria.

"Saya tidak bisa membayangkan seorang perempuan Afghanistan merasa nyaman duduk di ruangan gelap dengan ratusan pria," ujar Jonathan Saruk, seorang fotografer yang telah mendokumentasikan bioskop-bioskop di Kabul, seperti dilaporkan The Guardian, Selasa, 2 Oktober 2019.

Di tahun ini, seorang pembuat film dokumenter bernama Diana Saqeb Jamal berupaya untuk menghidupkan kembali budaya menonton film di Kabul. Ia membangun bioskop I-Khanom yang bertujuan untuk menyediakan tempat aman bagi perempuan dan keluarga yang ingin menonton film.

Arti dari nama bioskop sendiri adalah Lady Moon, berarti sebuah kota yang konon didirikan oleh Alexander Agung.

Di malam pembukaannya, bioskop ini memutar film karya Sharbanoo Sadat yang berjudul The Orphanage. Film ini diputar di depan penonton yang sebagian besarnya adalah perempuan. Kebanyakan dari mereka belum pernah menonton film itu sebelumnya

"Pergi ke bioskop menjadi hal yang tabu, terutama bagi perempuan," kata manajer I-Khanom, Shahim Nadery. Dia mengatakan, kebanyakan orang tua tidak akan membiarkan anak perempuannya pergi menonton ke bioskop.

I-Khanom merupakan ekspansi dari sebuah pusat kebudayaan bernama Book City Cultural Centre. Sebelumnya, sebuah kafe dan galeri seni juga berhasil didirikan.

Ketika banyak perempuan di Kabul merasa tidak aman saat berada di luar rumah pada malam hari, Book City memiliki reputasi sebagai tempat yang aman bagi para perempuan untuk melakukan berbagai kegiatan budaya di sana.


Halaman:

Editor: Endah Asih

Tags

Komentar

Terkini

X