Kamis, 9 April 2020

Pengobatan Terbaru Ini Turunkan Risiko Kanker Payudara

- 4 September 2019, 23:51 WIB
Ilustrasi.*/CANVA

NEW YORK, (PR) - Wanita yang memiliki risiko tinggi terkena kanker payudara dapat menurunkan risiko tersebut dengan mengonsumsi obat-obatan tertentu. Demikian rekomendasi terbaru dari lembaga USPSTF (Satuan Tugas Layanan Pencegahan Penyakit di AS).

"Kami menganjurkan wanita untuk berbicara tentang manfaat dan bahaya pengobatan dengan dokter mereka sehingga mereka dapat membuat pilihan terbaik untuk diri mereka sendiri, berdasarkan preferensi pribadi mereka," kata anggota USPSTF Dr. Michael Barry dari Harvard Medical School Boston, kepada Reuters Health melalui surel.

Hasil penelitian terhadap lebih dari 5 juta wanita yang berpartisipasi dalam 46 studi, USPSTF mengeluarkan dua rekomendasi utama dalam pernyataan yang diperbarui pada tahun 2019.

Pertama, wanita yang tidak memiliki riwayat kanker payudara tetapi berisiko tinggi terkena kanker payudara dianjurkan meminum obat untuk mengurangi risiko tersebut.

Kedua, USPSTF menganjurkan kepada wanita dibawah umur 60 tahun yang tidak memiliki peningkatan risiko kanker payudara untuk tidak menggunakan obat-obatan tersebut, karena kemungkinan efek samping yang terjadi dari obat itu ialah terjadinya penggumpalan darah, kanker endometrium, dan katarak.

Rekomendasi pada tahun 2013, terhitung ada dua obat untuk mengurangi risiko kanker payudara yaitu obat tamoxifen dan raloxifene. Memasuki tahun 2019,  terdapat penambahan  dua obat baru, yakni exemestane dan anastrozole.  Kedua obat tersebut diyakini bisa mengurangi risiko kanker payudara atau juga disebut aromatese inhibitor  (berfungsi untuk menghentikan produksi estrogen pada wanita yang mengalami fase menopause).

Belum disetujui

Akan tetapi, penggunaan kedua obat baru itu untuk mengurangi risiko kanker payudara, sampai saat ini masih belum disetujui oleh FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan AS).

Otoritas USPSTF mengakui bahwa wanita dengan mutasi pada gen kanker payudara BRCA1, BRCA2 dan wanita yang sebelumnya melakukan pemeriksaan radiasi dada akan berisiko terkena kanker payudara. Namun, tidak ada bukti yang cukup untuk mengetahui manfaat dan bahaya obat-obatan ini untuk para wanita.

"Selain itu, kita juga membutuhkan lebih banyak bukti untuk lebih mengetahui manfaat dan bahaya dari obat-obatan ini dan bagaimana cara obat-obatan tersebut mengurangi risiko kanker payudara agar tidak terjadi kejadian seperti wanita Afrika-Amerika yang meninggal karena kanker payudara," Kata Dr. Barry.

Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X