Minggu, 15 Desember 2019

Ebola Kini Bisa Disembuhkan

- 14 Agustus 2019, 08:32 WIB
SEORANG perempuan bereaksi saat tenaga medis menyuntikkan vaksin Ebola ke dalam tubuhnya di Goma, Republik Demokratik Kongo, 5 Agustus 2019.*/REUTERS

HASIL penelitian di Kongo menunjukan tingkat kesembuhan pasien Ebola meningkat dengan antibodi. Oleh karena itu, seperti dilaporkan The Guardian, Selasa, 13 Agustus 2019, Ebola tidak bisa disebut sebagai penyakit yang tak tersembuhkan lagi. 

Para peneliti mengatakan, dua dari empat obat yang diujikan di Republik Demokratik Kongo mempunyai signifikasi dalam mengurangi kematian.

ZMapp yang digunakan selama wabah Ebola besar di Sierra Leone, Liberia, dan Guinea telah dihentikan penggunannya bersama dengan Remdesivir, setelah dua antibodi monoklonal lain yang mencegah virus telah memberi efek substansial secara efektif. Hal itu diungkapkan oleh World Health Organization dan US National Institute of Allergy and Infectious Diseases (US NIAID) yang merupakan sponsor dari percobaan tersebut.

Profesor Jean-Jacques Muyembe selaku Direktur Utama Institut National de Recherche Biomédicale di Kongo mengatakan bahwa percobaan yang dimulai pada November telah dihentikan saat ini. Semua unit perawatan Ebola saat ini akan menggunakan obat antibodi monoklonal. Ia juga menambahkan bahwa percobaan ini akan menyelamatkan ribuan nyawa.

Salah satu tantangan terbesar adalah memerangi wabah yang panjang di Kongo, dan yang sekarang terjadi adalah keengganan dari 2,800 pasien untuk mencari perawatan.

Hal itu tidak membantu ketika kesempatan hidup bagi para penderitanya telah turun. Sebanyak 70% dari mereka yang terinfeksi di Kongo telah meninggal. 

Muyembe mengatakan, banyak orang melihat anggota keluarganya pergi ke pusat perawatan Ebola, lalu keluar dalam keadaan yang tidak bernyawa.

“Saat ini, 90% dari pasien mereka bisa pergi ke pusat perawatan dan keluar dalam keadaan yang sembuh total. Mereka akan mulai mempercayai hal itu dan membangun kepercayaan di tengah masyarakat nantinya,” tutur Muyembe.

Sementara itu Anthony Fauci, direktur US NIAID mengatakan, kematian secara keseluruhan dari mereka yang diberi ZMapp dalam uji coba di empat pusat adalah 40%. Sedangkan untuk Remdesivir adalah 53%.


Halaman:

Editor: Endah Asih

Tags

Komentar

Terkini

X