Penembakan Massal Berkaitan dengan Video Game?

- 13 Agustus 2019, 23:33 WIB
PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump.*/ EVAN VUCCI/AP

WASHINGTON, (PR).- Presiden Donald Trump menilai  penembakan massal yang menyebabkan 31 orang tewas di dua kota AS pada akhir pekan kaitannya dengan kebencian, kekerasan video game, dan gangguan mental.

Namun, dilansir laman USA Today dan AFP,  dengan 255 peristiwa penembakan massal yang terjadi tahun ini di Amerika Serikat, Gun Violence Archive, para analis mengatakan faktor-faktor itu tidak berkaitan dengan kekerasan.

Tidak semua penembak massal selalu berkaitan dengan masalah kesehatan mental, atau bermain video game kekerasan, atau memiliki dendam politik.

Namun, faktor yang paling jelas adalah kemudahan mendapatkan senjata.

Beberapa pelaku penembakan massal memang terobsesi bermain video game yang bertemakan “kekerasan”

Contoh kasus, Adam Lanza, yang membunuh 26 anak sekolah dan pegawai sekolah di Sekolah Dasar Sandy Hook di Connecticut pada tahun 2012 lalu. Dia dilaporkan menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk memainkan beberapa video game yang bertema kekerasan.

Nikolas Cruz, yang membunuh 17 orang di Marjory Stoneman Douglas High School di Florida pada tahun 2018, dilaporkan memainkan video game bertemakan kekerasan hingga 15 jam sehari.

Dibantah

Namun, Chris Ferguson, seorang profesor psikologi di Universitas Stetson yang telah mempelajari masalah ini, mengatakan bahwa hal ini tidak memiliki hubungan langsung dengan penembakan.

Ratusan juta orang di seluruh dunia memainkan video game yang familiar dengan sebutan “First Person Shooter” (genre video game yang berbasis persenjataan) seperti "Call of Duty” dan “Fortnite” namun bukan berarti mereka akan menjadi penembak di dunia nyata.

Halaman:

Editor: ella yuniaperdani


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X