Jumat, 6 Desember 2019

AS-Tiongkok Saling Ancam, Perang Dagang Mengeskalasi

- 10 Agustus 2019, 11:58 WIB
PERANG dagang Amerika Serikat-Tiongkok.*/REUTERS

BEIJING, (PR).- Perang dagang AS dan Tiongkok mengeskalasi belakangan ini. Beijing mendevaluasi yuan (menurunkan nilai yuan terhadap mata uang negara lain) setelah pemerintahan Trump mengancam akan menaikkan tarif pada hampir setiap ekspor Tiongkok. 

Seperti dilaporkan CNN Business, Amerika Serikat menyebut Tiongkok sebagai “manipulator mata uang”. Pertukaran telah mengguncang pasar global dan mengancam ekonomi global. 

Tiongkok mengatakan bahwa mereka siap untuk berperang jika perlu. Tiongkok juga mengatakan bahwa mereka memiliki senjata yang kuat.

Secara teori, Beijing dapat memicu kekacauan di pasar obligasi dengan membuang sebagian dari $ 1,1 trilyun dari Departemen Keuangan AS yang dimilikinya. Jika mereka melakukan itu, harga akan jatuh yang kemudian memicu naiknya suku bunga. Akibatnya, nilai pinjaman Amerika melonjak.

Akan tetapi, ada juga alasan mengapa Tiongkok tidak akan melakukan hal tersebut.  Pertama, bisa jadi mereka memang tidak menginginkannya.  Kedua, melakukan hal ini dapat memberi efek buruk juga kepada ekonomi Tiongkok sendiri.

Belakangan ini, Tiongkok telah melakukan langkah untuk menopang nilai mata uang mereka. Hal ini menunjukkan bahwa langkah Tiongkok menurunkan nilai yuan hanyalah sebagai peringatan. Namun, Presiden Donald Trump masih bisa membalas, meskipun pemerintahnya tetap akan melakukan perdagangan pada bulan September.

Jika Tiongkok benar-benar ingin menyerang Amerika Serikat, mereka bisa melakukannya dengan membuat dolar bergejolak atau tak stabil di pasar.

Dengan ini, tolak ukur untuk kredit bisnis dan konsumen, harga utang perusahaan, dan kredit mobil kemudian akan naik, sehingga menghentikan pertumbuhan ekonomi AS.  

Michael Hirson, pakar Tiongkok di konsultan Eurasia Group yang sebelumnya pernah menjabat sebagai kepala perwakilan Departemen Keuangan AS di Beijing, berpendapat bahwa hal tersebut sangatlah berisiko tinggi. Lagipula, tindakan itu tidak sejalan dengan strategi Tiongkok yang sebenarnya.


Halaman:

Editor: Gugum Rachmat Gumilar

Tags

Komentar

Terkini

X