Minggu, 15 Desember 2019

821 Juta Orang Menderita Kelaparan

- 17 Juli 2019, 05:13 WIB
ILUSTRASI penderita kelaparan.*/KABAR BANTEN

NEW YORK, (PR).- Lebih dari 821 juta orang di seluruh dunia menderita kelaparan tahun lalu. Demikian diungkapkan otoritas PBB di markasnya di New York,  Selasa 16 Juli 2019, seperti dilansir laman Channel News Asia.

Menurut otoritas PBB, peningkatan jumlah warga dunia yang kelaparan itu, telah berlangsung dalam tiga tahun terakhir. Dalam hal ini, setelah beberapa dekade mengalami penurunan, malnutrisi mulai meningkat pada tahun 2015. Penyebab utamanya disebabkan oleh perubahan iklim dan peperangan.

PBB berharap data statistik ini bisa berubah ke arah positif untuk mencapai salah satu target lembaga multinasional tersebut, yakni Pembangunan Berkelanjutan pada 2030. Tujuannya, untuk memperbaiki planet Bumi dan orang- orang yang hidup di dalamnya.

Akan tetapi, untuk sampai ke dunia dimana tidak satu orang pun mengalami kelaparan merupakan “tantangan yang besar,” ungkap laporan PBB itu, sambil mencatat bahwa jumlah orang- orang yang kekurangan makanan mengalami peningkatan menjadi 811 juta orang di 2017.

“Kita tidak akan mencapai dunia tanpa kelaparan di tahun 2030,” ujar David Beasley, kepala dari World Food Programme, salah satu badan PBB yang juga ikut berkontribusi terhadap isi laporan tersebut.

“Data itu merupakan statistik yang buruk. Tanpa adanya ketahanan pangan, kita tidak akan pernah memiliki hidup yang damai dan stabil,” tambahnya, menyayangkan karena media lebih sering membawakan berita terkait Brexit dan Donald Trump daripada anak- anak yang mati karena kelaparan.

Lebih lanjut, David memperingatkan bahwa kelompok- kelompok ekstrimis menggunakan kelaparan dan kontrol terhadap persediaan makanan sebagai senjata untuk memecah belah suatu komunitas atau untuk merekrut anggota baru.

Laporan terkait keadaan ketahanan pangan dan nutrisi dunia di terbitkan oleh PBB Food and Agriculture Organization (FAO) dan badan- badan PBB lain, termasuk World Health Organization (WHO)
“Untuk melindungi ketahanan pangan dan nutrisi, sangatlah penting untuk memiliki tempat dalam aturan sosial ekonomi untuk menangkal dampak dari siklus ekonomi yang merugikan, seraya menghindari pemotongan untuk layanan penting, seperti perawatan kesehatan dan pendidikan, dengan cara apa pun," ujar David.

Hal ini akan membutuhkan “pengintegrasian ketahanan pangan dan nutrisi kedalam upaya pengurangan kemiskinan” sembari mengatasi permasalahan ketidaksetaraan gender dan diskriminasi kelompok, ungkapnya.


Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

X