Ilmuwan Peringatkan Varian Baru Covid-19 dengan 32 Mutasi: Bisa Lebih Buruk daripada Delta

- 25 November 2021, 21:23 WIB
Ilustrasi. Para ilmuwan memperingatkan kemunculan varian baru Covid-19 yang disebut bisa lebih buruk dari Delta.
Ilustrasi. Para ilmuwan memperingatkan kemunculan varian baru Covid-19 yang disebut bisa lebih buruk dari Delta. /Pixabay/SamuelFrancisJohnson

PIKIRAN RAKYAT- Para ilmuwan memperingatkan terkait kemunculan varian Covid-19 baru dengan jumlah mutasi yang sangat tinggi, dan diyakini sebagai jenis virus yang paling berevolusi serta dapat lolos dari vaksin yang ada saat ini.

Sebuah varian Covid-19 baru yang diidentifikasi B.1.1.529, turunan dari B.1.1, memiliki 32 mutasi dan telah ditemukan di Botswana, serta Afrika Selatan dan Hong Kong.

Sejauh ini, hanya 10 kasus varian Covid-19 Botswana yang terlihat melalui sekuensing genomik. Tetapi para ahli percaya bahwa identifikasinya di tiga negara menunjukkan itu bisa lebih luas.

Satu kasus yang diidentifikasi di Hong Kong berasal dari seseorang yang baru saja melakukan perjalanan dari Afrika Selatan, memicu kekhawatiran bahwa lebih banyak infeksi dapat menyebar melalui perjalanan internasional.

Baca Juga: Anies Baswedan Sebut Muncul Tantangan di Tengah Situasi Covid-19 Jakarta yang Terkendali

Tingginya jumlah mutasi pada varian baru telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan komunitas ilmiah, karena sejumlah mutasi dapat membantu virus menghindari kekebalan.

Dilansir Pikiran-Rakyat.com dari laman Mirror, Dr Tom Peacock, seorang ahli virologi di Imperial College yang menuliskan tentang penemuan tersebut, menggambarkan kombinasi mutasi varian itu sebagai "mengerikan".

Menggambarkan profil mutasi galur baru sebagai "benar-benar mengerikan", ia menambahkan bahwa itu berpotensi menjadi "lebih buruk daripada hampir semua jenis lainnya", termasuk galur Delta yang sekarang dominan, yang memiliki 16 mutasi lonjakan.

"Ekspor ke Asia menyiratkan ini mungkin lebih luas daripada yang disiratkan oleh urutan saja. Juga panjang cabang yang sangat panjang dan jumlah mutasi lonjakan yang sangat tinggi menunjukkan ini bisa menjadi perhatian nyata (diprediksi lolos dari antibodi monoklonal yang paling dikenal)," tuturnya.

Halaman:

Editor: Arman Muharam

Sumber: Mirror


Tags

Artikel Pilihan

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X