Jumat, 6 Desember 2019

Perburuan Singa Picu Masalah Genetik

- 1 April 2019, 07:43 WIB
FOTO ilustrasi singa.*/REUTERS

LONDON, (PR).- Sudah dari lebih dari seabad lalu para penjelajah dan pemukim memperingatkan mengenai dampak perburuan singa dan hewan liar lainnya di Afrika. Salah satu ahli terbaiknya, seperti dilansir The Guardian, Minggu, 31 Maret 2019 Frederick Selous, yang menjadi inspirasi untuk karakter Allan Quatermain dalam novel H Rider Haggard, menuliskan pada tahun 1908 bahwa perburuan di era kolonial menyebabkan populasi raja hutan semakin menurun.

“Semenjak pertama kali saya datang ke sini pada tahun 1871, saya sudah melihat bagaimana beberapa hewan yang diburu semakin berkurang jumlahnya hingga sedemikian rupa hingga saya pikir tak ada tempat lagi di daerah selatan danau danau besar di Afrika, dimana tidak ada hewan yang tidak berkurang populasinya.”

Kini para peneliti telah mengungkap dampak predasi terhadap para singa. Jumlah populasi singa serta daerah kekuasaan mereka memang telah menurun – tetapi tampaknya kebugaran mereka segara genetis juga ikut menurun. 

Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa para singa yang ditembak oleh pemburu kolonial sejak 100 tahun lalu lebih beragam secara genetis dibandingkan dengan singa-singa Afrika sekarang. Penemuan ini sangat mengkhawatirkan karena ini menunjukkan bahwa kini perjuangan para spesies tersebut untuk bertahan hidup, mungkin lebih sulit daripada yang diperkirakan sebelumnya.

“Hilangnya keragaman genetik berarti singa sekarang kurang mampu menahan penyakit baru atau masalah lingkungan seperti gelombang panas atau kekeringan,” kata Simon Dures, penulis utama dari Zoological Society of London. “Hal ini berarti kita harus semakin berhati-hati melindungi mereka.”

“Pada akhir abad ke-19, ada sekitar 200.000 anggota Panthera Leo berkeliaran di padang rumput Afrika. Kemudian para kolonialis dari Eropa tiba dan mulai menembaki ribuan singa. Pertamanya, sebagai bentuk olahraga, kemudian untuk melindungi hewan ternak milik para pendatang baru. Kini para predator ini hanya tersisa kurang dari 20.000. Spesies ini telah ditetapkan sebagai  “rentan”, kata Dures. 

Namun, lanjut Dures, mereka tidak tahu seberapa buruk nasib para singa itu  secara genetik.”

Sebagai jawaban, tim tersebut menggunakan dua sumber DNA singa. Yang pertama berasal dari sampel yang diambil dari singa liar di kawasan konservasi Kavango - Zambezi, wilayah dengan luas kira-kira seukuran Inggris – yang membentang di beberapa bagian Botswana, Namibia, Zambia, dan Zimbabwe. Wilayah ini merupakan area terluas yang tersisa di Afrika dimana para singa dapat hidup relatif tidak terganggu manusia.***



Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

X