Minggu, 15 Desember 2019

Badai Ida Tewaskan Ratusan Orang

- 20 Maret 2019, 20:36 WIB
ILUSTRASI badai dilihat dari satelit.*/DOK PR

BEIRA, (PR),- Serangan badai Ida di kawasan Afrika menewaskan ratusan orang. PBB memperkirakan badai Idai yang bergerak  dengan kecepatan angin 170 km/jam itu, sebagai badai terburuk yang pernah terjadi di belahan bumi selatan.

Badai Idai yang menerpa Mozambik, Malawi, dan Zimbabwe ini menyebabkan tiap bangunan yang dilewatinya rusak parah, menelan banyak korban, mendatangkan banjir, dan merusak hasil panen. 

Dilansir The Guardian, Rabu 20 Maret 2019, bila berlanjut, sebanyak 2,6 juta penduduk akan terkena dampak dari badai ini. Bahkan, Kota Beira di Mozambik yang diterpa badai Jumat lalu rusak parah hingga akses keluar kota terputus.

Hingga saat ini, korban jiwa di Mozambik sebanyak 200 jiwa, di Zimbabwe 98 jiwa, dan di Malawi sebanyak 56 jiwa. Namun, jumlah korban jiwa tersebut masih belum dapat diketahui secara pasti mengingat ketiga negara tersebut masih membutuhkan waktu untuk mengatasi dampak dari bencana.


Presiden Mozambik, Filipe Nyusi, mengumumkan tiga hari berkabung nasional sejak hari Selasa. Dirinya juga menyebutkan bahwa Mozambik akan segera mengumumkan krisis nasional.

Mozambik sendiri sebelumnya sudah pernah diterpa badai dan banjir. Kejadian yang paling parah pernah terjadi di tahun 2000. Namun, badai kali ini tampaknya akan jauh lebih parah dibanding sebelumnya.

Banyak rumah, jalanan, dan tiang telepon terendam banjir. Pasukan militer Afrika Selatan dan sejumlah organisasi lainnya berusaha untuk menyelamatkan warga melalui udara. Namun, beberapa dari mereka kesulitan mengirim bantuan ke lokasi dikarenakan akses jalan dan jembatan yang rusak.

Menurut tim penyelamat, beberapa penduduk terlihat tersangkut di atas pohon dan yang lainnya terjebak di atas rumah. Tim penyelamat juga mengatakan bahwa mereka kesulitan mendapatkan makanan.

"Terkadang kami hanya berhasil menyelamatkan dua dari lima (korban); terkadang kami memilih untuk memberikan makanan dan segera menuju ke orang lain yang sedang dalam bahaya besar," ungkap salah satu anggota tim penyelamat, Ian Scher, seperti dilansir AFP dan dikutip The Guardian.


Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

X