Beratnya Perjuangan Siswa Palestina Bersekolah

- 28 Februari 2019, 12:27 WIB
SEORANG siswa sedang berjalan pulang dari sekolah menuju rumahnya di sebuah desa di Palestina.*DOK.ACT UN OCHA
SEORANG siswa sedang berjalan pulang dari sekolah menuju rumahnya di sebuah desa di Palestina.*DOK.ACT UN OCHA

GAZA, (PR).- Masalah keamanan menjadi satu di antara sekian banyak masalah yang mengganggu warga Palestina saat ini. Dengan status sebagai bangsa yang bertahan di bawah bayang-bayang penjajahan, mereka hidup dengan status keamanan yang rawan. Setiap hari mereka harus dihadapkan dengan bombardir dan penyerbuan oleh anggota militer Israel, serta perlakuan penangkapan yang sewenang-wenang.

Masalah keamanan ini juga berdampak pada kehidupan para pelajar sekolah di Palestina. Ahmad Abu Ayesh An-Najjar selaku Direktur Hubungan Internasional-Kementerian Pendidikan Palestina menyampaikan, para pelajar di Palestina tidak luput dari serangan-serangan yang dilakukan oleh militer Israel atau para pemukim Yahudi.

“Kondisi psikologis para pelajar, khususnya yang masih berusia muda, cukup tertekan karena sering terjadi bombardir, serangan atau ancaman dari para Zionis untuk kembali mengobarkan perang kepada para warga di Jalur Gaza. Siang dan malam, warga Gaza harus berhadapan dengan bombardir, sonic boom (dentuman dan guncangan keras yang diakibatkan pesawat yang terbang melebihi kecepatan suara), serta ancaman dari para Zionis. Selama Great March of Return yang dimulai Maret kemarin, ratusan warga Palestina syahid, beberapa di antaranya adalah anak-anak,” papar Ahmad dalam kunjungannya ke kantor pusat Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jumat (2/22).

Situasi di Tepi Barat pun tidak lebih aman. Anak-anak Palestina di wilayah itu harus melalui pagar-pagar besi atau pos-pos pemeriksaan hanya untuk sampai ke sekolah. “Situasi di Tepi Barat pun sangat sulit, hanya sedikit lebih baik dari Jalur Gaza karena tidak adanya pengepungan, namun cukup banyak terjadi serangan, penangkapan, atau pembunuhan warga Palestina. Banyak terjadi pencerabutan pohon-pohon serta perkebunan zaitun. Tembok-tembok pemisah yang dibangun di kota-kota di Tepi Barat juga membuat situasi menjadi sulit bagi para pelajar karena mereka harus melalui sejumlah pagar besi atau pos pemeriksaan untuk sampai ke sekolah,” terang Ahmad.

“Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, Kementerian Pendidikan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan dukungan psikologis untuk para pelajar untuk meringankan beban mereka. Situasi saat ini sangat buruk dan memiliki dampak yang sangat negatif pada proses pendidikan,” tambah Ahmad.

Kekerasan terhadap siswa Palestina meningkat

Kantor Koordinasi Urusan-Urusan Kemanusiaan PBB (UN OCHA) melaporkan bahwa setidaknya sejak awal tahun ajaran 2018-2019, tepatnya di bulan Agustus 2018, terjadi peningkatan insiden yang mengganggu proses pendidikan di Tepi Barat. Insiden-insiden yang melibatkan militer Israel atau pemukum Yahudi ini meliputi penghentian, gangguan terhadap para pelajar di pos-pos pemeriksaan atau wilayah lain, bentrokan di sekitar sekolah, serta operasi penyerangan atau pemeriksaan yang melibatkan kekerasan di dalam sekolah.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Artikel Pilihan


Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

x