Selasa, 2 Juni 2020

Ratusan Mahasiswa Terjebak Kerja Paksa di Taiwan, Mayoritas Perempuan

- 3 Januari 2019, 14:36 WIB
Ilustrasi/DOK PR

JAKARTA, (PR).- Sekitar 300 mahasiswa asal Indonesia diduga menjadi korban kerja paksa di Taiwan. Para mahasiswa program pertukaran pelajar itu diwajibkan bekerja 10 jam sehari di sejumlah pabrik seperti produsen lensa kontak. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi masih mendata jumlah pasti mahasiswa yang menjadi korban tersebut.

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Ismunandar mengatakan, mereka berangkat ke Taiwan setelah mendapat tawaran program New Southbound Policy yang digagas pemerintah Taiwan. Yaitu, program pertukaran pelajar dengan negara Asia Tenggara. Mahasiswa yang ikut program tersebut di antaranya kuliah-magang di Hsin Wu Technology University dan diming-imingi mendapatkan beasiswa.

“Semua sedang kami terus teliti. Namun perwakilan kami di Taipei sedang teliti dengan baik. Beberapa hari ini memang menjadi hot topic di media massa Taipe dan perwakilan kami sedang mengecek terus," kata Ismunandar di Jakarta, Kamis 3 Januari 2019.

Dia mengungkapkan, Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei sudah mendapat beberapa laporan tentang masalah tersebut. Menurut dia, dari laporan KDEI Taipei, jumlah mahasiswa Indonesia yang mengikuti program kuliah-magang di Taiwan sekitar 1.000 mahasiswa. Namun, sekitar 300 mahasiswa yang terjebak dan menjadi korban kerja paksa. "Mayoritas perempuan," ucapnya. 

Ia menduga, beberapa perguruan tinggi yang bekerja sama dengan penyalur tenaga kerja diduga mengirimkan mahasiswanya untuk menjadi tenaga kerja berupah murah di pabrik-pabrik wilayah kampus. Salah satu perguruan tinggi mempekerjakan mahasiswa untuk mengemas 30.000 lensa kontak setiap hari. Sementara perkuliahan dijalani mahasiswa tersebut selama 2 hari dalam satu pekan, sisanya mereka harus bekerja di pabrik. “Intinya kami sedang teliti terus. Dan berharap pihak Taiwan juga menertibkannya,” ujarnya.

Protes keras pemberitaan media

Beberapa media Taiwan memberitakan bahwa Jurusan Information Management, Program Industry-Academia Collaboration Hsin Wu Technology University telah melakukan pemagangan ilegal, dan dugaan eksploitasi manusia. Namun pihak Hsin Wu Technology University memprotes keras berita berjudul "foreign students 'tricked' into work" yang diterbitkan koran Taiwan News.

Ismunandar mengatakan, pihak Hsin Wu mengklaim program pemagangan itu tidak melanggar aturan. Menurut pihak Hsin Wu, ucap Ismunandar, pada tahun pertama kuliah, mahasiswa bekerja dalam kelompok tidak lebih dari 20 jam per minggu. Semuanya diklaim sesuai dengan prosedur yang diperlukan dalam pengajuan ijin kerja, asuransi kesehatan dan tenaga kerja. Pihak kampus juga berwenang mangatur transportasi antarjemput mahasiswa menuju pabrik.

Sementara pada tahun ke dua perkuliahan telah diatur sistem pemagangan. Pihak Hsin Wu berdalih mahasiswa Indonesia tidak pernah dieksploitasi dan sangat tidak masuk akal bagi mahasiswa untuk memasang sebanyak 30.000

label dalam 10 jam per hari. “Itu keterangan dari pihak Hsin Wu Technology University. Tapi perwakilan kami di Taiwan akan terus menelusuri dan mengecek kebenaran di lapangan seperti apa,” kata Ismunandar.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X