Minggu, 15 Desember 2019

Warga Kulit Hitam Puji Pernikahan Kerajaan

- 20 Mei 2018, 14:23 WIB

LONDON, (PR).- Pernikahan Pangeran Harry dan aktris asal AS, Meghan Markle, sudah usai. Namun publik  dunia masih membicarakan hal tersebut. Pasalnya, pernikahan kedua mempelai merupakan perayaan yang sangat meriah atas indahnya perbedaan.

Pengamat budaya Afua Hirsch dalam tulisannya untuk laman The Guardian, Minggu 20 Mei 2018, mengatakan bahwa pernikahan Meghan Markle adalah perayaan kenegroan yang sangat meriah. Ritual pernikahan Harry dan Meghan memang penuh dengan tradisi Inggris yang kuno, seperti kehadiran para ksatria dan paduan suara yang telah ada secara terus menerus sejak abad ke-13. 

Namun untuk pernikahan kerajaan kali ini, bukan ritual tersebut yang akan dikenang. Dilansir The Guardian, ketika Oprah Winfrey memasuki kapel di Kastil Windsor, salah satu pembawa acara TV bercanda bahwa bagi sebagian orang, itulah saat ketika ratu yang sebenarnya tiba. Kehadiran Winfrey adalah pengingat bahwa, antara dia dan Meghan Markle, pengantin wanita yang pernikahannya dia datangi, saat ini mungkin menjadi dua wanita berdarah Afrika paling terkenal di dunia saat ini. 

Juga hadir di pernikahan kerajaan, Serena Williams, yang ada di sana bersama suaminya yang berkulit putih, Alexis Ohanian, serta aktor kulit hitam  Idris Elba, dengan tunangannya Sabrina Dhowre, dan Gina Torres, rekan Markle dalam serial TV yang membuatnya terkenal.

Pada pernikahan kerajaan ini, orang-orang kulit hitam berbakat  hadir di sana lebih dari sekadar tamu undangan.  Begitu  juga dengan khotbah yang disampaikan oleh pemimpin gereja Episkopal asal AS, Pendeta Michael Curry, yang memulai ceramahnya dengan kutipan dari Martin Luther King Jr, berhasil mencerahkan jemaat dengan kebijaksanaan spiritual. Dalam khotbahnya,dilansir The Guardian, Michael menyinggung soal perbudakan warga kulit hitam di masa lalu yang telah membuat Yesus sebagai seorang revoluioner, terlukai.

Ketidakadilan rasial

Dilansir The Guardian, Minggu, Markle menggunakan pernikahannya untuk memperkenalkan teman-teman barunya soal budaya kulit hitam.  Paduan suara kerajaan yang menyanyikan lagu klasik Stand By Me: sebuah lagu cinta, tetapi awalnya lagu itu pertamakali menjadi terkenal di tengah-tengah gerakan hak-hak sipil, bahkan menjadi soundtrack untuk protes dan persatuan dalam menghadapi ketidakadilan rasial.

Marle sendiri dalam sejumlah wawancara mengakui pernah mengalami sejumlah diskriminasi ras. "Saat aku kecil, banyak orang sering menganggap ibuku adalan pengasuh, hanya karena mamaku berkulit hitam dan mendorong kereta bayi berkulit putih,"  ujar Markle. Menurut Markle, banyak orang kerap menganggap wanita kulit hitam yang sedang mengasuh anak berkulit putih, biasanya bekerja sebagai pembantu, pengasuh.

Bagi mereka, seperti pernikahan birasial itu hal yang tabu. Namun kata Markle, kini stigma warga soal kulit hitam mulai memudar.***



Editor: Huminca Sinaga

Tags

Komentar

Terkini

X