Selasa, 25 Februari 2020

Begini Isi Permintaan Maaf Mark Zuckerberg

- 26 Maret 2018, 09:21 WIB

FACEBOOK sebagai jaringan media sosial terbesar di dunia tengah menghadapi peningkatan pengawasan oleh pemerintah  Eropa dan Amerika Serikat. Tindakan itu seiring dengan tuduhan bahwa perusahaan konsultan Inggris Cambridge Analytica telah mengakses informasi data pengguna Facebook secara ilegal.

CEO Facebook Mark Zuckerberg akhirnya meminta maaf atas skandal bocornya data pribadi 50 juta pengguna media sosial ciptaannya, yang digunakan Cambridge Analytica untuk mendukung kampanye Donald Trump. Permintaan maaf yang ditanda tangani langsung oleh Mark Zuckerberg ini disebar dalam bentuk iklan satu halaman penuh di sejumlah media harian Inggris dan Amerika Serikat.

Cambidge Analytica dilaporkan menggunakan informasi tersebut untuk membuat profil voters Amerika, yang kemudian digunakan untuk membantu memilih Presiden AS Donald Trump pada tahun 2016. Untuk meretas data pengguna, salah seorang peneliti Cambridge Anslytica membuat aplikasi semacam kuis untuk mengetes psikologi pengguna Facebook, dan akhirnya diikuti oleh berjuta pengguna media sosial itu.

"Kami bertanggung jawab untuk melindungi informasi data Anda. Jika kami tidak bisa, maka kami tidak pantas (untuk melayani Anda)," kutipan permintaan maaf tertulis yang ditandatangani oleh Mark Zuckerberg. Sebelumnya, dikabarkan pula saham Facebook menjadi turun drastis karena skandal ini.

Sebuah teks bertinta hitam di atas latar belakang putih dan berlogo Facebook berisi permintaa maaf muncul pada hari Minggu 25 Maret 2018 waktu setempat pada halaman The Observer. Media ini menjadi salah satu surat kabar yang melaporkan turunnya saham Facebook atas kasus tersebut.

Penyalahgunaan kepercayaan

Cambridge Analytica mengklaim bahwa mereka mendapatkan data tersebut sesuai dengan undang-udang perlindungan data, kemudian menghapusnya atas permintaan Facebook. Lebih lanjut, mereka mengatakan bahwa mereka tidak menggunakan data sebagaimana yang diberitakan untuk pemilu AS 2016.

Mark mengakui bahwa salah seorang peneliti universitas telah membocorkan jutaan data pengguna Facebook pada tahun 2014.

"Ini adalah penyalahgunaan kepercayaan. Saya meminta maaf, dan kejadian ini tidak akan terulang lagi," tutur Mark dalam wawancaranya dengan salah satu stasiun televisi Amerika Serikat.

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X