Sepanjang 2017, 65 Jurnalis di Dunia Tewas Saat Bekerja

- 19 Desember 2017, 15:21 WIB
JURNALIS foto memotret dalam kondisi terluka di tengah bentrok massa dan polisi, di Kiev, Ukraina, 2013 lalu.*
JURNALIS foto memotret dalam kondisi terluka di tengah bentrok massa dan polisi, di Kiev, Ukraina, 2013 lalu.*

BERLIN, (PR).- Sedikitnya 65 pekerja media di seluruh dunia telah tewas dalam pekerjaan mereka tahun ini. Hal tersebut diungkapkan organisasi kebebasan media Reporters Without Borders (RSF) di Berlin, Selasa 19 Desember 2017 seperti dilapaorkan Yahoo News.

Di antara korban tewas adalah 50 jurnalis profesional, tujuh jurnalis warga dan delapan pekerja media lainnya. Lima negara yang dinilai paling berbahaya adalah Suriah, Meksiko, Afghanistan, Irak dan Filipina.

Dari mereka yang terbunuh, 35 orang meninggal di daerah-daerah dimana konflik bersenjata sedang berlangsung sementara 30 orang terbunuh di luar wilayah tersebut.

Tiga puluh sembilan dari mereka yang terbunuh menjadi sasaran pekerjaan jurnalistik mereka seperti melaporkan korupsi politik atau kejahatan terorganisir sementara 26 lainnya terbunuh saat bekerja karena serangan tembakan dan bom, misalnya.

"Ini mengkhawatirkan bahwa begitu banyak wartawan terbunuh di luar zona perang," kata Katja Gloger, anggota dewan Reporters Without Borders di Berlin, seperti dilaporkan Yahoo News.

"Terlalu banyak pelaku negara dapat berasumsi bahwa mereka akan bebas dari hukuman mati jika mereka bersikap kasar terhadap profesional media," tambahnya.

Organisasi tersebut mengatakan bahwa lebih dari 300 pekerja media saat ini dipenjara, dengan sekitar setengah dari jumlah tersebut berada di lima negara, yaitu Turki, Tiongkok, Suriah, Iran dan Vietnam.

Indeks kebebasan pers

Organisasi internasional Reporters Without Borders selama ini kerap mempublikasikan berbagai kajian soal pekerja media. Sebelumnya LSM ini juga pernah beberapa kali menurunkan laporan soal indeks kebebasan pers di berbagai negara, termasuk Indonesia. Lembaga yang berbasis di Prancis itu setiap tahun melaporkan sejumlah tren penting terkait situasi kebebasan pers di dunia. 

Penilaian RSF atas situasi kebebasan pers sebuah negara meliputi aspek independensi media, praktik self censorship, regulasi, dan transparansi sebuah negara. Penilaian tersebut berdasarkan kuesioner yang dikirim RSF kepada puluhan mitra LSM dan ratusan jaringan koresponden, jurnalis, peneliti, hakim, dan aktivis HAM.  

Halaman:

Editor: Huminca Sinaga


Tags

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X