Jumat, 29 Mei 2020

Max Born dan Kecemasannya terhadap Perang Nuklir

- 10 Desember 2017, 17:07 WIB
RUDAL antarbenua milik Amerika Serikat Minuteman III, yang tidak dilengkapi hulu ledak nuklir, diluncurkan dalam uji coba di pangkalan udara Vandenberg, California, Amerika Serikat, 2 Agustus 2017.*

MASA tua pakar fisika peraih Nobel, Max Born, yang meninggal pada 5 Januari 1970 di Gottingen, Jerman menyisakan kisah pilu.

Setelah memasuki masa pensiun, dia tinggal di kota peristirahatan di Bad Pyrmont. Di masa tuanya, dia dibayangi kengerian dan potensi bahaya dari peledakan bom atom dan menentang penggunaan senjata nuklir.

Max Born, ilmuwan yang berkontribusi besar terhadap bidang kuantum mekanik, merasa harus bertindak.

Untuk itu, dia menandatangani deklarasi yang disebut Gottingen Eighteen. Deklarasi itu melibatkan pula para ilmuwan terkemuka yang memprotes kemungkinan militer Jerman Barat kala itu memiliki kuasa atas senjata nuklir.

Perang nuklir yang ditakutkan pecah selama masa perang dingin telah berlalu dan memang tak terbukti terjadi.

Walakin, kini benih-benih potensi perang nuklir masih ada. Apalagi, data menunjukkan, jumlah hulu ledak nuklir yang siap meluncur terus meningkat.

Data dari organisasi nirlaba Natural Resources Defense Council menyatakan, Amerika Serikat memiliki 5.735-9.960 hulu ledak nuklir, Rusia (5.830-16.000), Inggris Raya (di bawah 200), Prancis (350), Tiongkok (130), India (40-50), Pakistan (30-52), Korea Utara (1-10).

Google tidak akan memasang Google Doodle hari ini tentang Max Born jika kedudukannya dalam peradaban manusia modern tidak teramat penting. Berikut ini 7 fakta kenapa perannya begitu penting dalam ilmu fisika modern.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X