Cara Gila Tunda Pemanasan Global, dari Kipas Raksasa Sampai Rekayasa Matahari

- 26 Juli 2017, 15:39 WIB
KIPAS raksasa milik Climeworks yang berfungsi menyerap karbondioksida dari udara di Swiss terpasang di atap salah satu gedung pengolahan limbah di Winwil, Swiss, 18 juli 2017.*

OSLO, (PR).- Para ilmuwan berupaya merekayasa iklim untuk memperlambat pemanasan global dengan membangun kipas angin raksasa guna menyerap karbondioksida dan melepaskan bahan kimia ke udara untuk meredupkan cahaya matahari.

Langkah berisiko tinggi dan berbiaya besar itu dibutuhkan untuk mencapai sasaran Kesepakatan Paris, tempat ratusan negara bertekad menekan tingkat pemanasan global, gejala penyebab gelombang panas, kenaikan air laut, dan ketinggian curah hujan.

Menurut catatan PBB, sasaran Kesepakatan Paris itu tidak akan tercapai hanya dengan menurunkan emisi industri atau kendaraan bermotor, terutama setelah Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian tersebut.

Menyikapi pemanasan global, para ilmuwan terus mencari cara lain demi menjaga suhu bumi.

Di desa dekat Zurich, Swiss, perusahaan bernama Climeworks mencoba menyerap gas rumah kaca dari udara dengan kipas raksasa yang dibangun dengan biaya 23 juta dolar atau lebih dari Rp 310 miliar.

Climeworks menghitung bahwa biaya untuk menyerap seton karbondioksida dari udara adalah sekitar 600 dolar atau sekitar Rp 9 juta.

Saat ini, perusahaan itu hanya bisa menyerap 900 ton karbondioksida selama setahun atau hanya setara dengan emisi tahunan 45 orang warga Amerika Serikat.

Climeworks menjual gas yang mereka serap kepada para petani sebagai pupuk sejumlah tanaman seperti tomat dan mentimun. Mereka juga bekerja sama dengan pabirkan otomotif Audi yang berencana menggunakan karbon dari Climeworks sebagai bahan bakar.

Direktur dan pendiri Climeworks, Jan Wurzbacher mengatakan, dia berambisi memotong biaya serap sampai 100 dolar per ton. Dia juga menargetkan bisa mengurangi sepersen emisi karbon dalam setahun mulai 2025.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X