Gunung Es Seukuran Pulau Bali Patah dan Terpisah dari Antartika

- 13 Juli 2017, 03:41 WIB

LONDON (PR).- Pada hari Rabu (12 Juli 2017), salah satu gunung es terbesar di dunia patah dan memisahkan diri dari Antartika. Gunung es yang terlepas ini mengancam keselamatan kapal-kapal di sekitar Antartika.

Menurut ilmuwan di University of Swansea dan British Antarctic Survey, “Gunung es seberat satu triliun ton dan berukuran 5.800 km persegi ini berada di bawah Kepingan Es Larsen C di Antartika dan terpisah antara 10 dan 12 Juli.” Dilansir dari Reuters.

Gunung es raksasa yang berukuran hampir sebesar pulau Bali itu telah mulai retak selama beberapa bulan terakhir. Para ilmuwan justru telah meramalkan terpisahnya gunung es itu sejak beberapa tahun yang lalu.

Sepanjang musim dingin Antartika, para ilmuwan memantau kondisi keretakan di dinding es menggunakan satelit Badan Antariksa Eropa. "Gunung es ini adalah salah satu dari yang terbesar dan masa depannya sulit diprediksi," kata Adrian Luckman. Ia adalah profesor di Universitas Swansea sekaligus memimpin proyek MIDAS, yang memantau lapisan es.

"Mungkin saat ini gunung es itu masih bersatu tapi kemungkinan gunung es itu akan pecah menjadi beberapa bagian. Beberapa bagian mungkin tetap berada di daerah tersebut selama beberapa dekade, sementara  bagian lainnya bisa saja bergerak ke Utara menuju perairan yang lebih hangat," tambahnya.

Dia mengatakan kepada CNN bahwa timnya yakin gunung es akan tetap utuh. Ia menambahkan, "Peristiwa adalah hal normal yang terjadi pada dinding es. Yang membuat tidak biasa adalah ukurannya."

Perubahan iklim

Gunung es itu akan membahayakan bagi kapal-kapal yang melintas karena posisi gunung es ada di semenanjung jalur perdagangan utama dan jalur kapal pesiar dari Amerika Selatan. Pernah di tahun 2009, lebih dari 150 kru MTV Explorer dan para awak kapal di evakuasi setelah kapal mereka menabrak gunung es di semenanjung Antartika.

Gunung es yang kemungkinan akan dinamai A68 itu, sudah dalam keadaan mengambang sebelum gunung es itu patah sehingga tidak ada dampak langsung pada permukaan laut. Namun musim panas di Antartika telah membuat dinding  es Larsen C mencair lebih dari 12 persen. Bila pecahan gunung es itu mencair setelah menjauh dari Antartika, hal itu akan menyebabkan peningkatan permukaan air laut secara besar.

"Beberapa bulan dan tahun kedepan, lapisan es baru mungkin bisa tumbuh kembali perlahan-lahan. Atau mungkin melahirkan gunung es baru yang pada akhirnya menyebabkan kehancuran lapisan-lapisan es--para ilmuwan saat ini masih berbeda pendapat," kata Luckman.

Halaman:

Editor: Administrator


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X