Selasa, 26 Mei 2020

KTT G20 Diwarnai Protes, 29 Aktivis Black Bloc Ditangkap

- 7 Juli 2017, 21:30 WIB

HAMBURG, (PR).- Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk pertama kalinya sejak sang miliuner memenangi pilpres AS 2016 lalu. Seperti dilaporkan Reuters, Jumat, 7 Juli 2017, Putin dan Trump bertemu di selasela pelaksanaan KTT G20 yang berlangsung di Hamburg, 7-8 Juli 2017. 

Kedua pemimpin saat bertemu petama kalinya itu, tampak saling berjabatan tangan dan sempat mengobrol sebentar. Reuters menyebutkan, obrolan keduanya terkait sejumlah masalah global seperti konflik Suriah dan konflik Ukraina. 

Di kedua konflik ini, Rusia mengambil langkah bersebrangan dengan Amerika Serikat. Putin mendukung rezim Assad  di Suriah, sedangkan di Ukraina, pemimpin Rusia tersebut mendukung kelompok separatis. Sementara Trump, sama dengan presiden AS sebelumnya, menginginkan Assad segera lengser. 

Adapun untuk masalah di Ukraina, AS mendukung kedaulatan Ukraina sehingga menyayangkan sikap separatis yang memilih bergabung dengan Rusia. Konflik di Ukraini ini telah menyebabkan Putin dianggap mennganeksasi Ukraina Timur.

Aksi protes

Sementara itu, pelaksanaan KTT G20 yag dihadiri para pemimpin dunia itu diwarnai aksi demonstrasi dari kelompok antikapitalisme. Seperti dilaporkan Reuters, Jumat, lokasi KTT yang dekat dengan pusat kota membuat para aktivis kiri yang antikapitalisme dari berbagai negara di Eropa dengan mudah mengakses kawasan tersebut.

Para aktivis kiri dari berbagai negara di Eropa itu menuliskan pesan " Selamat Datang Ke Neraka" kepada sejumlah pemimpin dunia, termasuk Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe yang tiba di HAmburg sejak Kamis, 6 Juli 2017.

Para aktivis kiri, sama seperti pelaksanaan KTT G20 sebelumnya, selalu menyuarakan sikap antikapitalis. Mereka menolak perdagangan bebas dan juga aktivitas ekonomi lainnya yang berbau neoliberalisme.

Untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan, otoritas Jerman meningkatkan keamanan di kota Hamburg. Sejumlah meriam air berteknologi canggih dikerahkan untuk menghalau massa pemrotes mendekati lokasi KTT yang digelar di dekat Sungai Elbe. Meriam air tersebut disebut canggih karena bekerja secara otomatis dengan memanfaatkan sejumlah teknologi sensor. 

Kendati pengamanan diberlakukan sangat ketat, para demonstran yang didominasi anak-anak muda itu tak gentar. Hal ini menyebabkan terjadinya bentrokan. Sekira 29 pemrotes yang merupakan anak-anak muda dari kelompok antikapitalisme ternama di Eropa, Black Bloc, ditangkap polisi. 

Halaman:

Editor: Huminca Sinaga


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X