Dunia Sedang Menghadapi Krisis Kemanusiaan Terbesar Pasca PD II

- 11 Maret 2017, 12:29 WIB
PARA pengungsi Somalia antre pembagian makanan di Distrik Hogan, Ibu Kota Mogadishu bagian selatan.*
PARA pengungsi Somalia antre pembagian makanan di Distrik Hogan, Ibu Kota Mogadishu bagian selatan.*

NEW YORK, (PR).-  Dunia sedang menghadapi krisis kemanusian terbesar sejak berakhirnya perang dunia kedua. Menurut pegawai senior PBB, kini 20 juta orang di empat negara mengalami kemiskinan dan kelaparan.

Stephen O’Brein, Sekretaris Jenderal Bidang Kemanusiaan PBB mengemukakan bahwa tanpa koordinasi dan kerjasama masyarakat dunia, “banyak orang semakin rentan mengalami kelaparan, kemudian mati. Selain itu, banyak orang akan menderita dan mati karena berbagai macam penyakit.”

Seperti diberitakan The Guardians, O’Brein mengharapkan adanya bantuan kepada empat negara yang sedang menderita. Yaitu Yaman, Sudan, Somalia, dan Nigeria. “Untuk melawan malapetaka, untuk mencegah bencana, setidaknya kita membutuhkan 4,4 juta dolar hingga Juli nanti,” ucap O’Brein di kantornya di New York, Jumat, 10 Maret 2017 lalu.

Tanpa suntikan bantuan dana, anak-anak akan menderita gizi buruk dan tidak dapat pergi ke sekolah, kemudian mereka tidak bekerja dan pembangunan akan gagal. “Kehidupan, masa depan, dan harapan akan hilang begitu saja,” ucapnya.

PBB dan organisasi pangan dunia menyebutkan bahwa kelaparan menerpa 30% anak-anak di bawa umur 5 tahun. Kelaparan dan gizi buruk menjadi penyebab dua atau lebih dari 10.000 kematian manusia setiap harinya.

Menurut O’Brein, krisis kemanusiaan terbesar tejradi di Yaman, di mana sekitar 18,8 juta orang membutuhkan pertolongan dan lebih dari 7 juta orang kelaparan dan tidak tahu dari mana mereka akan mendapatkan makanan setiap harinya.

Yaman sedang bergulat dalam konflik karena kobaran perang antara Arab Saudi dan Iran di negara termiskin tersebut. Hanya dalam dua bulan terakhir, lebih dari 48.000 orang melarikan diri karena peperangan. Karena peperangan itu Yaman menjadi negara yang paling terpuruk di dunia.

“Sayangnya, seluruh pihak yang terlibat dalam konflik dengan sewenang-wenang menolak dan mempolitisi bantuan yang akan datang. Padahal, seharusnya mereka bertanggung jawab atas penderitaan kemanusiaan, kelaparan yang tak terelakkan, kematian yang tidak perlu, dan penderitaan lainnya yang diakibatkan peperangan tersebut.”
 
Untuk 2017, O’Brein mengatakan dibutuhkan 2,1 juta dolar AS untuk membantu 12 juta orang penduduk Yaman. Namun, hanya 6% yang telah diterima sejauh ini. Untuk mengusahakan dana bantuan kepada Yaman, O’Brein mengatakan bahwa sekretaris jenderal PBB Antonio Guterres akan memimpin konferensi penjaminan untuk Yaman pada 25 April di Jenewa.

Kepala bagian Kemanusiaan PBB itu pun mengunjungi Sudan Selatan, sebuah negara paling muda di dunia yang telah dirusak perang saudara selama tiga tahun. “Inilah situasi yang buruk yang pernah terjadi di sana,” geram O’Brein.

Halaman:

Editor: Administrator


Tags

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X