Meningkatnya Nasionalisme Acam Pluralisme Eropa

- 9 Desember 2016, 10:42 WIB
Pluralisme di Eropa terancam oleh meningkatnya popularitas partai nasionalis yang anti-migran dan juga meningkatnya gerakan xenophobia. Hal tersebut diungkapkan peneliti Spanyol yang juga Direktur The Elcano Royal Institute, Charles Powell dalam presentasinya di acara Bali Democracy Forum (BDF) IX  di Mangapura Hall, The Westin Hotel, Nusa Dua, Bali, Kamis 9 Desember 2016.*
Pluralisme di Eropa terancam oleh meningkatnya popularitas partai nasionalis yang anti-migran dan juga meningkatnya gerakan xenophobia. Hal tersebut diungkapkan peneliti Spanyol yang juga Direktur The Elcano Royal Institute, Charles Powell dalam presentasinya di acara Bali Democracy Forum (BDF) IX di Mangapura Hall, The Westin Hotel, Nusa Dua, Bali, Kamis 9 Desember 2016.*

NUSA DUA, (PR).- Pluralisme di Eropa terancam oleh meningkatnya popularitas partai nasionalis yang anti-migran dan juga meningkatnya gerakan xenophobia. Fenomena di Austria, Belanda, Prancis dan Hungaria menunjukkan bagaimana politisi partai kanan yang anti-migran berhasil memainkan isu tersebut untuk menarik dukungan dari warga yang khawatir negara mereka dikuasai orang asing. Hal tersebut diungkapkan peneliti Spanyol yang juga Direktur The Elcano Royal Institute, Charles Powell dalam presentasinya di acara Bali Democracy Forum (BDF) IX di Mangapura Hall, The Westin Hotel, Nusa Dua, Bali, Kamis 9 Desember 2016. Charles mengatakan bahwa meningkatnya nasionalisme di Eropa merupakan salah satu ancaman terhadap pluralisme. Oleh karena itu, untuk mempertahankan kemajemukan di Eropa, maka perlu dilakukan sejumlah upaya. Di antaranya mempertahankan sekularisme, mengimplementasikan politik inklusif dan semakin menguatkan institusi demokrasi. Dia memberikan contoh negaranya sendiri, Spanyol yang merupakan salah satu negara di Eropa dengan jumlah migran sangat besar. Dalam hal ini, 10 persen populasi warga Spanyol lahir di luar negeri. Namun di Spanyol sampai saat ini tak pernah ada gontokan antara migran dan warga Spanyol. Selain itu, di Spanyol juga tak ada partai antimigran seperti di Prancis, Belanda dan Inggris. Di negeri matador ini juga tak ada gerakan xenophobia. Padahal, situasi ekonomi di Spanyol saat ini sedang melemah yang bisa dilihat dari tingginya angka pengangguran yang mencapai 18 persen. Namun, masalah ekonomi tak memicu letupan xenophobia atau gerakan rasis lainnya. Keberhasilan Spanyol meredam gerakan xenophobia, kata Charles, disebabkan sejumlah faktor. Salah satunya, Spanyol selama ini tak pernah mengkriminalkan imigran gelap. Baik itu pendatang resmi maupun yang illegal, semua mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan. "Tak ada kriminalisasi terhadap migran yang tak punya dokumen. Mereka bisa mendapatkan akses kesehatan dan lainnya. Ini membuat mereka terintegrasi dengan baik di Spanyol,"ujar Charles. Oleh karena itu, kata Charles, penting bagi Eropa untuk terus mempertahankan penguatan lembaga demokrasi dan juga menjalankan politik inklusif sehingga warga migran bisa terintegrasi dengan baik di kawasan Eropa.***

Editor: Huminca Sinaga


Tags

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X