Selasa, 26 Mei 2020

Ada Kisah Cinta di Balik Penemuan Kertas Karbon

- 7 Oktober 2016, 04:35 WIB

KERTAS karbon barnagkali konsep asing bagi mereka yang tumbuh di zaman serba digital. Padahal pada masa lalu, kertas karbon menjadi andalan di banyak kantor dan perusahaan. Kertas karbon adalah kertas tipis yang dilapisi dengan campuran lilin dan pigmen yang digunakan di antara dua lembar kertas biasa untuk membuat satu atau lebih salinan dokumen asli. Fungsinya digunakan untuk duplikasi dokumen. Kertas karbon juga digunakan saat melakukan pembayaran kartu kredit. Asal muasal kemunculan kertas karbon belum diketahui pasti. Pada 1806, orang Inggris bernama Ralph Wedgwood menggunakan istilah kertas berkarbonasi. Secarik kertas direndam ke dalam tinta dan dikeringkan. Di Italia, Pellegrino Turri menciptakan mesin tik setidaknya pada 1808. Mesin tik harus memakai kertas karbon untuk membuat tulisan. Tentu ia setidaknya menyempurnakan wujud kertas karbon pada saat yang hampir sama seperti Wedgwood atau sebelumnya. Menariknya, keduanya menggunakan kertas karbon sebagai alat untuk mencapai tujuan. Mereka mencoba untuk membantu tuna netra menulis melalui penggunaan kertas hitam sebagai pengganti tinta. Wedgwood bermaksud untuk membantu tuna netra melalui penggunaan jarum panjang dan bukan pena dari bulu. Meskipun ditemukan pada 1803, pena logam umum digunakan pada pertengahan abad ke-19. Pena bulu masih digunakan pada akhir abad itu dan menjadi simbol usia tulisan tangan. Pena bulu pertama kali diperkenalkan untuk menyalin naskah di biara-biara sekitar abad ketujuh. Pena bulu menjadi alat tulis yang digunakan selama seribu tahun lebih. Cara kerja kertas karbon adalah ketika ujung pena digunakan untuk menggoreskan tulisan pada kertas yang berada paling atas, kertas karbonasi ditempatkan di antara dua lembar kertas. Fungsinya untuk mentransfer salinan dari kertas yang berada di atas kertas karbonasi ke lembaran di bawahnya. Beberapa tahun kemudian, Wedgwood mengembangkan ide ini menjadi metode pembuatan salinan surat-surat pribadi atau bisnis dan dokumen lainnya. Salinan dibuat pada saat menulis dengan mengandalkan kertas karbonasi. Pellegrino Turri memiliki alasan yang sangat pribadi untuk mengembangkan kertas karbon. Dia jatuh cinta pada wanita muda, Carolina Fantoni, seorang tuna netra. Turri memutuskan untuk membuat sebuah mesin yang memungkinkan Fantoni untuk berhubungan dengannya dan teman-temannya. Pada 6 November 1808, Fantoni menulis "Saya putus asa karena saat saya hampir tidak menemukan kertas hitam.” Kertas hitam disiapkan Turri sebagai pasokan untuk Fantoni dalam menulis. "Aku tidak akan pernah lupa bahwa mesin itu adalah karunia yang berharga dibuat oleh Anda," kata Fantoni kepada Turri yang tertulis pada buku Michael Adler yag berjudul ”The Writing Machine”. Akan tetapi, mesin tik buatan Turri itu menghilang setelah dikembalikan kepada anaknya usai kematian Fantoni. (Wendhi Widyantoro)***

Editor: Administrator


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X