Pengamat Intelijen Ungkap Penyebab Taliban Menjadi Kelompok Radikal

- 13 September 2021, 10:00 WIB
Seorang anggota Taliban duduk sambil memegang senjatanya di Kabul, Afghanistan, 4 September 2021. Taliban membantah telah tembak Polwan Afghanistan yang sedang hamil di depan keluarganya dan sebut tengah lakukan penyelidikan.
Seorang anggota Taliban duduk sambil memegang senjatanya di Kabul, Afghanistan, 4 September 2021. Taliban membantah telah tembak Polwan Afghanistan yang sedang hamil di depan keluarganya dan sebut tengah lakukan penyelidikan. /Wana News Agency via Reuters

PIKIRAN RAKYAT – Di dalam kelompok Taliban terdapat faksi-faksi yang dibentuk salah satunya adalah faksi yang didirikan Jalaluddin Haqqani.

Menurut pengamat intelijen H. As'ad Said Ali, faksi Haqqani ini merupakan komponen dari Taliban yang terpengaruh ideologi salafi, sehingga menjadi kelompok radikal.

Menurutnya, semua bermula ketika para pelajar (Taliban) Afghanistan mengungsi ke perbatasan ketika perang melawan Uni Soviet yang menduduki Afghanistan sejak Desember 1979 hingga Februari 1989.

Di perbatasan itulah, para pelajar Afghanistan tersebut belajar di madrasah-madrasah yang dibiayai Arab Saudi.

Baca Juga: Taliban Coba Yakinkan Dunia Mereka Telah Berubah, Dimulai dari Aturan untuk Wanita

"Karena (pada saat) itu (dalam kondisi) perang, maka yang diajarkan adalah jihad qital (atau) jihad perang. Kemudian, timbul murid-murid yang punya pemahaman bahwa jihad adalah perang,” katanya.

Ia menyebutkan bahwa perang selama 10 tahun tersebut membentuk kelompok bernama Haqqani yang menguasai perbatasan Afganistan dan terpengaruh ideologi salafi.

Meski begitu, ada pula pejuang lain yang jumlahnya lebih besar dari Taliban yang ketika itu, berjuang melawan Uni Soviet dengan bantuan Arab Saudi dan Amerika Serikat. Kemudian, para pejuang itu berhasil memenangkan peperangan dengan Uni Soviet.

"Jadi ada dua pejuang (di Afghanistan). Pertama, murni tidak terpengaruh ideologi jihad (qitali). Kedua, para patriot yang terpengaruh oleh ideologi jihad di perbatasan tadi. Itu yang terjadi. Nah, sekarang yang mayoritas adalah Taliban (bermazhab) Imam Hanafi, sehingga ideologinya bukan (jihad) qitali," kata Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu.

Halaman:

Editor: Rahmi Nurfajriani

Sumber: NU


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X