Rabu, 26 Februari 2020

Ibu Ini Menyesal Tidak Memvaksin Anaknya

- 8 Maret 2016, 07:29 WIB

OTTAWA, (PRLM).- Kontroversi mengenai pemberian vaksin pada bayi dan balita menurunkan minat imunisasi di Kanada. Salah satu orang tua yang kontra terhadap vaksin di Kanada, Tara Hills pun tidak memberikan ketujuh anaknya vaksin.

Ia termasuk kelompok yang meyakini pendapat bahwa vaksin adalah penyebab autisme pada anak. Namun, tahun 2015 ia mengalami penyesalan yang amat dalam karena absen memvaksin anaknya. Tujuh anaknya terisolasi akibat menderita batuk rejan menahun yang sulit disembuhkan.

Tetangga di lingkungannya menegur Hills ketika anaknya keluar rumah, karena di kota-kota besar Kanada, penderita flu ringan pun dianjurkan tidak beraktivitas karena khawatir menular. Penyesalannya bertambah parah, setelah anak dari tetangga yang sepaham dengannya soal vaksin, menderita campak.

“Apakah kalangan medis merupakan bagian dari konspirasi besar? Apakah vaksinasi masih diperlukan saat ini? Apakah kami telah membahayakan keselamatan anak-anak tanpa kami sadari? Tak ada asap tanpa api, jadi kami tak punya pilihan selain berdiam diri dan berharap semua baik-baik saja,” tulis Hills soal keraguannya tentang vaksin, di halaman The Scientific.org.

Ia pun membaca kembali semua ulasan ilmiah dan bukti tentang kekebalan pascaimunisasi. Hills juga menemui dokter keluarga, dan mengatur jadwal vaksin untuk anak-anaknya. Namun, beberapa saat menjelang vaksinasi, penyakit batuk rejan atau pertusis tujuh anaknya kambuh. “Saat ini keluarga saya harus menanggung konsekuensi akibat informasi yang salah dan kekhawatiran yang berlebihan tentang vaksin,” ujar Hills. Saat mereka sembuh, satu-satu dari anaknya diajak berdiskusi tentang vaksin

Ditanya netizen soal masih banyak ibu di luar sana berpandangan skeptik soal vaksin, ia masih menghargai pendapat yang berbeda. Namun, ia mengingatkan agar para orang tua mengecek ulang sumber pendapat dan berhati-hati memilih informasi. Sebelum memutuskan, orang tua perlu melibatkan dokter untuk semua kasus, bukan hanya vaksin. “Kami tidak berkonsultasi dengannya sebelum kami berhenti vaksinasi karena kami takut dihakimi atau lebih buruk. Sekarang, saya berharap saya bersikap lebih terbuka pada dokter kami,” ujar Hills.

CEO Facebook Mark Zuckerberg pun pernah menuai berbagai komentar dari kelompok antivaksi saat ia mengunggah gambar anaknya dengan judul "Kunjungan ke dokter--saatnya vaksin!". Kiriman itu pun mendapatkan 3,4 juta reaksi dan komentar.

Ada netizen yang mengecam aksi Mark itu. "Orang tua jenis apa Anda? Menyelematkan nyawa bayi dengan memberikan bahan kimia! Anda pikir Anda mencintainya. Omong kosong! Toleransi dan pertahanan bayi secara alami lah yang dia perlukan untuk melawan polio dan TBC," tulis Jody Taylor di kolom komentar.

Meski begitu, banyak jugay yang mengapresiasi Mark yang sudah memberi contoh untuk kalangan selebriti, juga kelompok masyarakat yang masih menganggap buruk vaksin. (Gita Pratiwi/A-170)***

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi A

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X